Minggu, 19 Februari 2023

Perjalanan Kecilku


Masa Yang Sulit Untuk Dilalui


Kevin merupakan seorang pelajar kelas dua SMPN Indah. Dia dari tiga bersaudara. Dia merupakan anak yang teladan, dia selalu mengerjakan tugas tepat waktu, dia memiliki prestasi akademik di sekolahnya. Ya, walaupun dia sering diejek oleh teman-temannya karena dia suka membaca buku, dan dia sering dijuluki 'Bocah Kutu Buku'. Namun dia menghiraukannya, dia membiarkan teman-temannya mengejeknya. Di semester pertama bulan kelima penilaian akhir semester diumumkan oleh Bu Guru. Mendengar apa yang dibicarakan oleh guru dia menulis semua yang diberitahukan, dari dimulai tanggal berapa berakhir tanggal berapa, jadwal pelajaran yang maju di penilaian akhir semester nanti, dan materi-materi yang disampaikan oleh guru. Seorang anak yang duduk disamping Kevin berkata "hey! Niat banget kamu nulis sebanyak itu. Apa nggak capek nulis mulu?"."Emm.. Sebenernya capek sih, cuman aku mau mempersiapkan penilaian akhir semester ini dengan baik." Jawabnya. "Halah, nggak usah belajar. Kan materinya gampang." Ujar teman sebelahnya. "Em.. enggak ah, aku mau tetep belajar walaupun ini mudah, dan aku belajar untuk nilai yang sempurna." Jawab Kevin sambil tersenyum. Setelah penyampaian pengumuman, bel istirahat berbunyi "Teng..Teng..Teng..Teng.." "Yeah akhirnya istirahat" Teriak anak yang bernama Ditya. "Anak-anak pelan-pelan!" Teriak Bu Guru. Semua murid telah keluar dari kelas, didalam kelas hanya tersisa Kevin. Melihat Kevin duduk sendirian di kursi, Bu guru mendatangi Kevin dan bertanya "Kevin. Kenapa kamu tidak istirahat terlebih daluhu? Teman-temanmu sudah berada diluar semua." "Nanti saja Bu, saya sedang mengecek pengumuman yang ibu sampaikan tadi." Jawab Kevin dengan tersenyum. "Baiklah kalau begitu, ibu permisi dulu ya," sahut bu guru dengan wajah tersenyum. "Iya Bu, silahkan" Jawab Kevin kembali. Tiga menit berlalu. Kevin telah menyelesaikan semuanya. Ia pun bergegas menuju kantin untuk membeli makan dan minum. Sesampainya dikantin, suasana kantin sangat ramai dan penuh. Setelah sudah mulai tidak ramai dan tidak penuh Kevin berjalan menuju ibu penjual bakso. Saat sampai "Bu saya beli bakso biasa, es teh, sama tempe goreng tiga." Minta Kevin. "Baik, saya siap kan dulu ya." Jawab ibu penjual bakso dengan senyum. Semuanya sudah jadi, "Semuanya berapa bu?" tanya Kevin. "Bakso biasa lima ribu, es teh dua ribu, sama tempe goreng tiga, tiga ribu, jadinya sepuluh ribu." Jawab ibu penjualnya. "Ini bu uangnya." "Uangnya dua puluh, kembali sepuluh ribu. Terimakasih." Ujar ibu penjual dengan tersenyum. "Terimakasih kembali bu" sahut Kevin. Kemudian Kevin mengambil mangkuk berisikan bakso dan gelas es teh, beserta gorengannya dan duduk kemudian makan. Selesai makan bel masuk kelas bunyi "Teng..Teng..Teng..Teng.." Kevin mengembalikan mangkuk dan gelas kepada ibu penjual bakso itu tadi. Dia berlari menuju ruang kelas delapan b. Pelajaran pun dimulai kembali. Pukul 14.15 bel pulang sekolah, "Teng..Teng..Teng..Teng..". "Wooo... Pulang sekolah yey" Teriak temannya Ditya. Kevin berkemas-kemas buku dan tempat pensil. Ia hampir kelupaan bahwa ia meminjam pensil milik teman perempuan, yang bernama Tata. Kevin berjalan menuju meja Tata, "Tata terimakasih ya sudah meminjamkanku pensil, dan maaf ya kalo aku merepotkan kamu." kata Kevin kepada Tata. Tatapun menjawab "Iya, nggak papa kok. Aku senang bisa membantu kamu" Jawab Tata dengan senyum. "Yaudah kalo begitu, aku pulang dulu ya. Dada sampai jumpa." Sahut Kevin. Kevin pun jalan menuju luar gedung sekolah, hingga dia menemukan tumpangan angkot. "Pak!" Teriak Kevin memanggil supir angkot itu. Kevin berjalan dan menaiki angkot itu. "Mau kemana dik?" Tanya supir angkot. "Ke rumah saya di jalan Tulip" Jawab Kevin. "Oke, duduk dulu." sahut supir angkot itu. Sesampainya di rumahnya Kevin berjalan dan sambil memberikan uangnya kepada supir angkot. "Ini pak uangnya. Terimakasih ya sudah mengantarkan saya," kata Kevin sambil memberikan uangnya kepada supir angkot itu. "Sama-sama dik" Jawab supir angkot itu dengan tersenyum. Kevin pun keluar dari angkot itu dan berjalan menuju rumahnya yang berada di gang yang lumayan sempit, yang terletak di wilayah persawahan. Saat sampai dirumah dia merasa sedikit ragu untuk masuk kedalam rumah, karena orang tuanya selalu saja bertengkar. Kevin mencoba untuk masuk, namun dia agak sedikit takut. Dia masuk perlahan-lahan, dan melepas sepatu yang dikenakannya. Dia mencoba untuk tetap diam dan tidak berisik. Dia berjalan menuju kamarnya. Saat sampai dikamarnya dia menaruh tasnya di kursi, dan melepas seragam dan ganti dengan pakaian rumah. Setelah itu dia membereskan buku-buku yang ia bawa ke sekolah tadi. Kemudian dia keluar kamar dan makan siang. Mendengar orang tuanya yang masih bertengkar ia ingin sesegera mungkin untuk keluar dan menjual stiker yang dibuatnya sendiri. Selesai makan dia mecuci piring dan bergegas untuk keluar dan mencari tempat ramai dan menjualnya disana, ia juga menitipkan stikernya kepada toko buku disekitar agar dia mendapatkan untung. Hari ini banyak sekali pembeli yang membeli stiker milik Kevin karena stikernya memiliki bentuk dan gambar yang lucu, unik, keren dan sebagainya. "Wah.. pembeli hari ini sangat ramai dibandingkan hari hari kemarin." Ucapnya dalam hati. Saat sore hari seluruh dagangannya terjual habis, dan dia bisa pulang dengan cepat. Dia juga mampir ke toko-toko yang dia datangi dan menanyakan hasil penjualannya, dan ternyata juga sama penjualannya terjual habis. Penjual toko buku itu memberikan uang kepadanya. Kevin pun berjalan pulang kerumah. Setibanya dirumah ia masuk dengan suasana yang sepi hanya televisi yang menyala. Dia melihat ibunya sedang berada di dapur memasak untuk makan malam, dan ia juga melihat ayahnya yang hanya bermain ponsel. Lalu dia memberanikan diri untuk berkata kepada ayahnya "Ayah, mengapa kau hanya tiduran sambil bermain ponsel saja, apakah tidak lelah? Lihat ibu! Dia lelah dengan sikap ayah yang seperti itu hanya mementingkan ponsel saja. Bantulah ibu setidaknya hal-hal kecil, ibu sudah cukup senang bukan?" Mendengar hal itu ayahnya merasa bersalah dan meminta maaf kepada Kevin beserta dua adiknya dan juga ibunya. "Nak, ayah minta maaf. ayah tidak menyadari perbuatan ayah sendiri." Ujar ayah kepada Kevin. Ayah juga meminta maaf kepada ibu, karena sering memarahinya. Dengan rasa yang lega Kevin masuk ke kamarnya dan mengambil dompet yang dibawanya dan dia menghitung uang yang dia dapat. "Wah.. banyak juga ya, penghasilannya. Mungkin aku bisa membagikannya kepada adik-adikku."Kevin berbicara sendiri. Ibu yang tidak sengaja melewati kamar Kevin melihat dia sedang gembira hatinya langsung masuk kekamar Kevin, dan berkata "Kevin, kau sedang apa?" "Aku sedang menghitung uang hasil jual stiker tadi bu."Jawab Kevin. "Oh, sebaiknya kamu simpan uang itu agar kamu bisa menikmati hasil kerjamu sendiri. Atau kamu bisa berbagi dengan kedua adikmu." Ujar Sang Ibu. "Baik bu," kata Kevin. Kemudian sang ibu meninggalkan Kevin, dan melanjutkan memasak. Lalu Kevin membagikan uang hasil jualannya kepada kedua adiknya yang bernama Rafa, dan Niel. Setelah itu dia berniat untuk membantu ibunya mencuci piring, dan memasak. Mereka semua berkumpul di meja makan lalu makan bersama. 

Pada bulan kelima semester pertama di hari Senin, ulangan penilaian akhir semester pertama dimulai, hingga selesai. Semester kedua pada bulan Januari. Dia semakin giat untuk belajar hingga dia SMA. Dia tidak lupa dengan semua kewajiban yang ia terapkan sebagai penjual stiker tapi bukan hanya penjual stiker dia juga bekerja sebagai pelayan di toko buku, untuk membiayai sekolahnya. Karena sang ayah mendidiknya secara ketat dan disiplin. Mungkin ini terlihat aneh untuk pelajar SMP maupun SMA. Seiring berjalannya waktu, Kevin hampir menyerah untuk melanjutkan sekolahnya. "Apakah aku harus berhenti sekolah? Aku sudah lelah dengan kehidupanku saat ini. Apakah aku harus menyerah? Apakah aku harus berhenti?" Pikirnya. Kemudian dia menemui ayahnya sedang membaca koran di depan rumah. Lalu ia bercerita semua keluh kesahnya pada ayahnya. Kemudian ayahnya berkata, "Kamu tidak perlu berhenti, kamu tidak perlu menyerah. Ada kala saat kamu berhenti dan menyerah. Dahulu ayah juga begitu, lelah dengan belajar dengan ujian sekolah. Namun kakekmu berkata kepada ayah sejak ayah masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Beliau mengatakan 'Mungkin hari ini kamu lelah, dan menyerah. Namun saat kamu dewasa nanti semua ilmu yang kamu dapatkan bisa memimpinmu untuk naik ke tangga yang lebih tinggi dari yang sekarang kamu berada.' Kata-kata itu selalu melayang dibenak ayah. Emm.. Ada satu hal lagi yang ayah ingin sampaikan. Hidup ini layaknya seperti pesawat kertas yang terbang melayang di udara. Awalnya kamu tidak tahu cara melipatnya, kamu gagal coba lagi gagal lagi, coba lagi gagal lagi, hingga terus-menerus begitu. Pada akhirnya kamu bisa melipatnya dan menerbangkannya hingga jauh. Jangan melihat jauh dekatnya pesawat itu terbang malinkan apa yang dilalui oleh pesawat itu. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mencapai cita-citanya. Dan cobaan untuk mencapai tujuannya." Kata ayah, kepada Kevin.  Kevin pun tidak jadi untuk menyerah. Namun godaan-godaan untuk menyerah terus melampaui dipikiran Kevin.

Tetapi ia sadar dengan kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya. Kevin sendiri juga terus memotivasi dirinya untuk terus maju ke tangga berikutnya. "Aku percaya pada diriku sendiri. Jangan menyerah. Cobalah walau pada akhirnya kamu gagal, jadikan kegagalan sebagai contoh, sebagai pelajaran untuk diriku." Kata-kata itulah yang selalu melayang dibenak Kevin. Satu bulan lagi Kevin lulus SMA, untuk ujian akhir tahun, dan ujian kelulusan. Singkat cerita Kevin terlah berhasil melalui ujian kelulusan dengan nilai yang sangat baik. Itu karena berkat kata-kata ayahnya dan kata-katanya sendiri

Ia melanjutkan kuliahnya di jurusan menejemen kuliner. Karena cita-cita masa kecilnya menjadi seorang chef. Ia menginginkan dirinya untuk bisa bekerja di sebuah kapal pesiar yang mungkin cukup mewah atau pun di hotel bintang lima. Untuk bisa mengejar cita-cita itu dia harus lebih bisa belajar tentang makanan makanan yang dia olah, menjadi makanan yang sangat enak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melodi dalam Keheningan

Lima tahun berlalu begitu saja, entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, semua hanya seperti angin lewat begitu saja tidak ada hari yang cuk...