Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2020

Ayam dan Ikan Tongkol ( INDONESIA KEPULAUAN RIAU )




 Dahulu kala di Kepulauan Riau, kaum ikan tongkol dan ayam bersahabat erat.

Mereka saling membantu satu sama lain. Sampai suatu hari, Raja Ayam memberitahukan kepada Raja Tongkol bahwa satu keluarga nelayan akan menikahkan anaknya dan mengadakan pesta besar - besaran. Semua warga diundang. Pesta itu juga akan menampilkan kesenian zikir bardah, yaitu untaian doa dan pujian dalam rangkaian lagu. 

Rakyat Tongkol sangat menyukai kesenian itu. Tambahan lagi, mereka juga ingin sekali merasakan suasana yang berbeda dari laut yang biasa mereka tinggali. 

"Jangan lupa sahabatku Raja Tongkol, kau datanglah bersama rakyatmu ke pesta itu besok malam. Kalian pasti akan sangat meniknatinya," ujar Raja Ayam kepada Raja Tongkol ketika mereka bertemu di pinggir pantai.

"Baiklah, aku dan rakyatku akan senang hati melihat pesta itu. Tetapi, aku butuh bantuanmu, Raja Ayam," jawab Raja Tongkol.

"Bantuan apa itu? Dengan senang hati aku akan membantumu."

"Kami akan datang nanti malam saat air laut pasang. Kami harus kembali sebelum fajar menyising, sebelum air laut surut. Jadi, kalian jangan lupa berkokok untuk memberi tanda waktu bagi kami," Raja Tongkol menjelaskan permintaannya.

"Tentu saja kami akan melakukannya. Sudah menjadi tugas ehari - hari kami untuk membangunkan seluruh warga pulau untuk menyambut hari baru," Raja Ayam menyanggupi permintaan Raja Tongkol.

Keesokan harinya, pestapun mulai digelar. Sejak pagi hari, kesibukan sudah terlihat di daratan, tak jauh dari bibir pantai. Ibu - ibu memasak hidangan dan bapak - bapak menyiapkan panggung hiburan. Semua orang berwajah ceria, tak sabar menunggu puncak acara nanti malam. 

Malam yang ditunggu - tunggu pun tiba. Bulan purnama bersinar sangat terang. Air laut pun naik. Saat itu lah rombongan rakyat Tongkol daang dari tanggah laut, memasuki wilayah pantai. Mereka menempatkan diri senyaman mungkin untuk menikmati pesta itu. Mereka bersembunyi di karang - karang, tak jauh dari panggung utama.

Tak lama kemudian, lantunan zikir bardah yang sangat merdu mulai terdengar. Semua orang terlarut dalam doa dan puji - puji yang indah, dengan diiringi suara rebana yang berlalu - lalu. Rakyat tongkol pun sangat menikmati rangkaian suara indah itu. Malam semakin larut, lantunan zikir bardah semakin menghanyutkan siapa saja yang mendengarnya, hingga terbuai dalam mimpi. 

Masalahnya, warga pantai dan para tongkol yang tertidur. Raja Ayam dan rakyatnya pun sangat nyenyak. 

Celaka! Air laut sudah mulai surut, tapi tak ada satu pun ayam yang berkokok! Saat matahari terbit, satu per satu ikan mulai bangun. Betapa kagetnya mereka melihat pantai mengering.

"Oh, tidak... Air laut sudah surut! Kemana ayam jantan yang bertugas berkokok membantu rakyat tongkol?" para tongkol pun mulai panik. 

Mereka terjebak di karang - karang yang sudah kering. Sebagian tongkol berlompat - lompat, berusaha kembali ke pantai yang berair. Namun, hanya sedikit yang berhasil, salah satunya Raja Tongkol. 

Ketika hangatnya sinar matahari mulai menusuk kulit, Raja Ayam baru tebangun, diikuti oleh ayam - ayam yang lain. "Ya ampun...! Ternyata hari sudah siang. Bagainama dengan nasib rakyat tongkol?" pikir Raja Ayam kebingungan dan panik.

Tak lama kemudian, warga yang tinggal di pinggiran pantai pun mulai terbangun. Mereka sangat terkejut, melihat banyak sekali ikan tongkol menggelempar - gelempar di karang - karang sepanjang pantai. Lalu Mereka beramai - ramai menangkap ikan - ikan itu dan menampung nya di embar untuk dibawa pulang.

Melihat rakyatnya ditangkapi sedemikian rupa, Raja Tongkol sangat marah. Ia pun mengucapakn sumpah untuk Raja Ayam dan rakyatnya. "Persahabatan kita sudah selesai, Raja Ayam! Kau dan rakyatmu bukan sahabatku lagi. Mulai sekarang, kami rakyat tongkol akan memakan semua rakyat ayam, terutama kalian ayam jantan! 

Jika kami tidak mendapatkan daging kalian, bulu-bulu  kalian pun akan kami santap," Raja Tongkol berseru. Sejak saat itu, ikan tongkol dan ayam menjadi musuh abadi. Mulai saat itu pula, para nelayan disekitar wilayah Riau menggunakan umpan bulu ayam untuk memancing ikan tongkol.


FAKTA TENTANG PERMUSUHAN IKAN TONGKOL DAN AYAM:

1. Para nelayan di Kepulauan Riau dan Kepulauan Natuna memang mempunyai kebiasaan unik ketika memancing ikan tongkol. Mereka menggunakan bulu tengkuk ayam jantan sebagai umpan memancing ikan tongkol.

2. Tongkol adalah salah satu spesies tuna yang hidup di perairan tropis Indo-Pasifik Barat. Panjang tubuhnya bisa mencapai 145 cm dengan berat 35 kg.



Kamis, 16 Juli 2020

RAJA PARAKEET ( NANGGROE ACEH DARUSSALAM )

Di sebuah hutan lebat di kawasan Aceh, hiduplah seekor burung parkit yang merupakan raja bagi burung-burung laian penghuni hutan itu. Raja burung itu bergelar Raja Parakeet. Raja Parakeet merupakan raja yag bijaksana dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Mereka hidup berdampingan dengan hewan-hewan lain di hutan tanpa ada satu  masalah pun. Jikalau ada masalah, Raja Parakeet bisa menyelesaikan masalah dengan cepat dan adil.

Namun, suatu ketika ketenangan di dalam hutan terganggu oleh kedatangan para pemburu yang senang memasang jebakan dimana-mana. "Hari yang indah. Burung-burung yang gemuk pasti lezat untuk dipanggang.," ucap si Pemburu. Sambil masuk ke dalam hutan, pemburu melihat-lihat sekeliling. "Hmm, aku rasa ini tempat yang tepat. Dibawah pohon besar banyak sekali kotoran burung.

Pasti mereka bersarang di atas sana," si Pemburu bergumam sambil mendongkkan kepalanya ke atas pohon akasia yang sangat lebat. Kali ini, ia tak memasang perangkap seperti biasanya. Ia lalu bersembunyi dan mengintai dari kejauhan. Para burung rupanya tidak mengetahui trik pemburu kali ini. "Panduka, saya rasa hari ini cukup aman. Saya tidak melihat perangkap dimanapun," salah seorang pengawal Raja Parakeet melapor.

"Baiklah, jika benar adanya seperti itu, ayo kita mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya, mengigat musim hujan akan segera datang," titah Raja Parakeet. Kemudian, terbanglah mereka menuju dasar pohon akasia. Di bawah pohon biasanya banyak biji-bijian dan serangga yang menjadi makanan mereka. Malang, ketika hinggap di ranting-ranting pohon bagian bawah, kaki mereka merekat pada getah yang dioleskan pemburu.

Seluruh anggota kelompok sanagat panik. Raja Parakeet berusaha tetap tenang dan segera menemukan jalan keluarnya. "Kalian tenanglah. Nanti saat pemburu datang, kalian harus berpura-pura mati. Si Pemburu menginginkan kita ditangkap hidup-hidup. Jika si Pemburu melihat kita mati, ia tidak akan senang dan akan melepaskan kita. Nah, pada hitungan kesepuluh setelah burung terakhir dilepaskan, saat itulah kita terbang bersama-sama sekancang-kencangnya," Raja Parakeet memberi perintah.

Tak lama, Si Pemburu datang. Burung-Burung pun segera melemaskan tubuhnya, berpura-pura mati. Si Pemburu sangat kecewa melihat hasil buruannya. Setelah melepaskan dan memeriksa burung satu persatu, ia meletakkan burung yang dikira mati itu begitu saja. Sayang, sebelum giliran Raja Parakeet dilepaskan, Si Pemburu jatuh terpeleset. Suara jatu Si Pemburu membuat para burung Kaget dan segera terbang sekencang-kencang.

Pemuru  langsung tahu bahwa burung-burung tadi hanya berpura-pura mati. Ia sangat kesal karena telah tertipu. Ia lalu menghampiri satu burung yang tersisa, yaitu Raja Parakeet. "Teman-temanmu telah menipuku. Sekarang, kau akan kujadikan santapan!" Si Pemburu menghardik. " Wahai Pemburu, tolong jangan santap aku. Dagingku tak banyak dan pasti rasanya alot," Raja Parakeet memohon.

"Jika kau tidak menyantapku, aku akan bernyanyi untukmu setiap pagi agar kau terhibur," Raja Parakeet terus mencari cara agar bisa selamat. Mendengar tewaran Raja Parakeet, Pemburu menyetujuinya. "Baiklah, aku terima tawaranmu. Tetapi, jika suaramu tidak indah aku akan memakanmu," jawab Pemburu. Benar saja, setiap pagi Raja Parakeet bernyanyi untuk Si Pemburu.

Suaranya pun sangat indah dan merdu. Pemburu sangat menyukai suara Raja Parakeet. Keindahan suara Raja Parakeet terdengar sampai Kerajaan. Raja pun tertari ingin memiliki Raja Parakeet. Raja mengutus seseorang untuk pergi ke rumah Si Pemburu untuk membeli Raja Parakeet dengan harga yang mahal. Ketika utusan itu sampai, Si Pemburu langsung tertarik dan menerima tawaran Raja. 

Raja Parakeet pun dibawa ke Kerajaan. Ia diberimakan dan minuman yang enak-enak, serta sangkar besar yang terbuat dari emas. Namun, tak satu kebaikan Raja itu yang membuatnya bahagia. Raja Parakeet sangat ingin kembali ke hutan, hidup bersama rakyat dan keluarga yang mencintainya. Ia juga rindu terbang bebas di angkasa tanpa batas. Suatu hari, Raja Parakeet terlihat sangat sedih karena kerinduannya yang tak tertahankan lagi. 

"Aku rindu keluarga dan rakyatku. Bagainama kehidupan mereka tanpaku?" Ia pun sibuk mencari akal agar bisa kembali ke hutan tempat asalnya.  Keesokan harinya, Raja Parakeet menemukan cara. Setelah makan pagi, ia berpura-pura mati. Sang Raja sangat sedih mengetahui burung kesayangannya mati. Ia lalu mengadakan uparaca pemakaman secara besar-besaran selayaknya anggota kerajaan yang meninggal dunia.

Raja Parakeet pun dikeluarkan dari sangkarnya, diarak di dalam sebuah tandu kebesaran yang dihiasi pita-pita mewah khas kerajaan. Didalam tandu, Raja Parakeet menggintip keadaan di luar. Melihat keadaan aman, Raja Parakeet pun segera menyelinap dan terbang tinggi.
 


Akhirnya...... Ia bebas...! Ia hidup berbahagia bersama rakyatnya.




 FAKTA TENTANG BURUNG PARAKEET:

Burung Parkit adalah burung yang memiliki banyak kelebihan. Ia memang termasuk golongan burung yang cerdas. Selain suaranya dapat dilatih untuk berkicau dan menirukan suara-suara pendek manusia, burung Parkit juga bisa dijadikan burung hias. Keindahan bulu-bulunya yang beraneka warna bisa menyamrakkan rumah. Burung Parkit dengan kecerdasannya juga bisa dilatih untuk melakukan gerakan-gerakan atkraktif mirip akrobat.



Selasa, 02 Juli 2019

Asal Usul Kota Surabaya ( INDONESIA JAWA TIMUR)

Alkisah pada zaman dulu kala, ditempat yang sekarang menjadi Kota Surabaya, hiduplah dua hewan yang saling bermusuhan. Kedua hewan itu adalah Sura si ikan hiu, dan Baya di buaya. Mereka bisa berkelahi sampai berhari-hari hanya untuk memperebutkan mangsa. Hingga suatu hari Sura si ikan hiu merasa sangat jenuh dengan perkelahiannya dengan si Baya. Ia pun merasa tak enak hati kepada hewan lain yang pasti selalu ternggangu oleh perkelahiannya itu.

Maka terbitlah idenya untuk hidup berdampingan dengan damai bersama Baya. " Baya, kamu bosan nggak dengan perkelahian kita ini? Kalau aku , aku sudah sangat lelah dan bosan," Sura menggutarakan perasaannya kepada Baya. "Sebenarnya aku pun merasa begitu, Sura. Aku juga tak suka terus berkelahi." Si Baya ternyata memiliki perasan sama seperti Sura. "Nah, bagaimana jika kita berdamai saja, Baya? Aku punya ide yang bagus agar kita bisa berdamai." kata si Sura.

" Oh, ya? ide apa itu, Sura?" Baya bertanya dengan penuh minat. " Aku mengusulkan kita menentukan batas wilayah kita masing-masing untuk mencari mangsa. Aku menguasai daerah laut, sedangkan kamu wilayak daratan. Kita tidak boleh mencari mangsa yang bukan wilayah kita."  "Hmm, ide yang bagus. Kamu berjanji kalau kamu benar-benar akan menaati peraturan ini, kan? Aku pasti akan menaati." Baya menaggapi usulan Sura.

"Tentu saja, Baya. Bukankah aku yang menguratakan ide ini, sudah pasti aku juga akan menaatinya," tegas Sura. Mulai saat itu, Sura dan Baya benar - benar menaati peraturan yang sudah mereka sepakati bersama. Selama beberapa waktu, mereka hidup damai. Tidak pernah terjadi perkelahian lagi. Baya asyik mencari mangsa di daerah daratan, sedangkan Sura di laut. Hewan - hewan lain dim-diam juga merasa bahagia dengan pekelahian ini.

Daratan dan lautan sungguh terasa nyaman dan tenang. Sampai sutau hari, Sura mulai tergoda untuk berburu mangsa di sungai yang sebenarnya barada di wilayah daratan. Sura bosan dengan mangsa di lautan. Ia ingin mencicipi ikan air tawar. Ia pun menyelinap ke sungai dan mencari mangsa di sana. Awalnya, aksinya itu tidak diketahiu oleh Si Baya. Karena merasa aman, ia makin sering pergi kesungai hingga akhirnya tertangkap basah oleh si Baya.

"Hai Sura, apa yang kau lakuakan disini? ini kan wilayah kekuasaanku. Mengapa kamu mencari mangsamu disini ? Kamu sudah melnggar peraturan yang kamu buat sendiri!" Baya menggeram marah melihat keberadaan Sura. "Baya, kamu salah, aku kan berburu di dalam sungai, yang berarti air. Aku tidak berburu di daratan tempat tinggalmu itu," Sura mengelak. "Tapi, ini wilayahku, sungaikan ada di daratan! Kamu tidak berhak disini.

Bukankah kamu kamu sendiri yang mengatakan kalau wilayahmu hanya di lautan?" Baya makin geram mendengar pembelaan Sura. "Tapi, sungai dan lautankan berhubungan," Sura tetap bertahan dengan pendapatnya. "Jadi, kamu menantang aku, ya?" Baya makin naik pitam.
"Ayo, aku ladeni kamu! Aku tidak takut. kali ini pemenang nya dapat berburu dimana pun ia mau. Tak ada batasan !" Sura mulai terpancing emosinya.

Merekapun kembali berdue dengan sengit. Pertarungan kali ini sangat penting karena pemenangnya akan mendapatkan wilayah yang berburu paling luas. Tanpa kenal lelah, masing-masing terus mendesak lawannya,mengeluarkan jurus duel paling hebat. Sampai akhirnya, Sura berhasil menggigit putus ekor Baya. Air sungaipun menjadi merah darah. Dengan luka parah, Baya tetap berusaha menyerang. Ia pun berhasil menggigit ekor Sura sampai hampir putus.

Sura berteriak kesakitan dan melarikan diri kelautan lepas. Baya merasa sangat puas, sekarang ia bebas berburu ke lautan. Untuk menang beduel Sura dan Baya, penduduk sekitar menamakan lokasi pertempuran itu 'Surabaya.' Bahkan, ikan hiu dan buaya dijadikan lambang Kota Surabaya sampai saat ini.

Fakta Kota Surabaya:
(. Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur. Juga menjadi salah satu kota besar di Indonesia.

. Kota Surabaya juga mendapat julukan Kota Pahlawan kerena banyak peristiwa bersejarah di Kota ini.

. Pendapat lain mengatakan nama Kota Surabaya berasal dari kata "selamat dari bahaya" yang disingkat menjasi Surabaya. Sementara itu, simbol ikan hiu dan buaya menggambarkan sikap heroik pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Raden Wijaya saat melawan pasukan Mongol.)

Melodi dalam Keheningan

Lima tahun berlalu begitu saja, entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, semua hanya seperti angin lewat begitu saja tidak ada hari yang cuk...