Aku mengambil biola itu, menjepitnya di antara dagu dan bahu kiri. Bau kayu tua dan resin busur yang khas seketika menenangkan pikiranku. Aku mulai menarik busur perlahan. Melodi pertama yang keluar adalah nada yang berat, sendu, menggambarkan suasana senja yang dingin dan hatiku yang merindukan sosok Bunda.
Aku mulai memainkan sebuah lagu. Ini bukan lagu yang ada di buku musik. Ini adalah lagu yang kubuat sendiri, sebuah cover yang kuaransemen khusus untuk Bunda:"You Raise Me Up."
Melodi itu mengalir, dimulai dengan pizzicato (dipetik) yang melambangkan ingatan masa kecil yang manis—tawa Bunda, suara riangnya saat aku bermain fashion di ruang tamu. Kemudian, alunan legato (mengalir) yang lembut masuk, menggambarkan kasih sayang Bunda yang tak pernah putus. Nada-nada biola itu seolah menggantikan kata-kata yang tak sanggup kuucapkan kepada Ayah.
Namun, di bagian tengah lagu, melodi itu mendadak meninggi, bernada tajam dan cepat, sebuah crescendo yang menyakitkan. Itu adalah saat-saat kepergian Bunda, rasa terkejut dan marah yang masih kurasakan. Tanganku gemetar sedikit, tetapi aku terus memaksanya. Aku harus mengeluarkan semua rasa sakit ini.
Saat aku mencapai klimaks emosi, sebuah nada tinggi yang panjang dan menusuk, mataku terpejam. Di benakku, aku melihat sosok Bunda di mimpiku tadi pagi—wanita cantik bergaun putih. Tapi kali ini, wajahnya tidak lagi samar. Dia tersenyum, senyum yang sama yang kulihat saat aku memamerkan riasan fashion ala-alaku.
Melodi mulai mereda, kembali ke nada yang rendah dan damai. Biola seolah berbisik, "Aku baik-baik saja, Nak. Teruslah bermain."
Lagu itu berakhir dengan sebuah vibrato yang panjang dan lembut, sebuah kesimpulan bahwa meskipun Bunda telah tiada, melodinya—semangatnya—tetap hidup dalam setiap gesekan biolaku.
Aku membuka mata. Air mata masih membasahi pipi, tetapi hatiku terasa ringan. Biola tidak menyembuhkan lukaku, tetapi biola memberiku sebuah suara.
Aku menoleh ke jendela. Langit sudah gelap, tetapi di luar sana, aku merasa Bunda telah mendengarkan seluruh laguku.
"Aku akan merekamnya, Bunda. Aku akan membuat cover lagu ini, dan aku akan mengunggahnya. Agar semua orang tahu betapa hebatnya Bunda dan betapa aku merindukanmu," bisikku pada udara kosong.
Ide itu tiba-tiba datang. Jika aku tidak bisa berbicara dengan Ayah melalui kata-kata, mungkin aku bisa berbicara melalui musik. Mungkin melodi ini, yang menceritakan seluruh rasa sakit dan cintaku, bisa sampai ke hati Ayah yang selama ini tertutup rapat.
Aku meletakkan biola, mengambil ponselku, dan mulai mencari aplikasi rekaman. Aku tidak lagi bermain untuk diriku sendiri. Aku bermain untuk Bunda, dan sebagai jembatan menuju Ayah.
Keesokan harinya, aku mulai merekam "Gesekan Kerinduan" di kamarku. Aku mengatur microphone seadanya dan mulai bermain. Setelah tiga kali percobaan, aku mendapatkan rekaman yang sempurna. Aku mulai mengedit video sederhana, menambahkan foto-foto Bunda saat kami masih sering bermain bersama, dan foto biola pertamaku.
Saat video itu selesai, aku ragu. Apakah aku harus mengunggahnya?
Aku memutuskan. Ya. Aku harus. Ini adalah suaraku, dan ini adalah penghormatan termanis yang bisa kuberikan kepada Bunda. Aku mengunggahnya di channel pribadiku yang selama ini hanya berisi video latihanku. Aku menuliskan deskripsi singkat:
"You Raise Me Up." - Untuk Bunda
Tak lama setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki Ayah mendekati kamarku. Suara ketukan di pintu, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Nak..." panggilnya dari luar. Suaranya terdengar berbeda, sedikit serak.
Aku membuka pintu. Ayah berdiri di sana, ponsel di tangannya, layarnya menampilkan video yang baru saja kuunggah. Matanya merah, dan aku melihat, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, ada air mata yang menggenang di matanya.
Aku membuka pintu. Ayah berdiri di sana, ponsel di tangannya, layarnya menampilkan video yang baru saja kuunggah. Matanya merah, dan aku melihat, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, ada air mata yang menggenang di matanya. Ekspresinya tidak lagi dingin dan kaku, melainkan rapuh dan dipenuhi duka yang tertahan.
"Ayah..." panggilku pelan, terkejut melihat reaksi emosionalnya yang begitu terbuka.
Ayah menarik napas panjang, suaranya tercekat. "Itu... itu lagu yang indah, Nak. You Raise Me Up." ucapnya, menyebut judul yang kuberikan. Jeda sejenak, ia masih menatap layar ponselnya, seolah gambar bunda di video itu adalah nyata.
"Ayah mendengarnya?" tanyaku, jantungku berdebar kencang. Aku tak pernah menyangka ayah akan melihatnya secepat ini, apalagi bereaksi begini.
Ayah mengangguk perlahan. "Aku sedang istirahat. Ponselku bergetar notifikasi dari YouTube, kukira software baru, ternyata ... ini." Ia mengangkat ponselnya sedikit, memperlihatkan klip video biola itu. "Sejak kapan kamu membuat ini?"
"Baru saja selesai ku edit dan kuunggah, Yah. Tadi sore. Aku ... aku membuatnya untuk bunda," jawabku, kini air mata kembali mendesak keluar. Melihat ayah menunjukkan emosi yang sama denganku, entah mengapa membuat kesedihanku terasa lebih nyata namun juga lebih ringan.
Ayah melangkah maju, tangannya terulur menyentuh bahuku. Sentuhan fisik yang sudah lama sekali tidak kurasakan darinya, kecuali sentuhan formal di meja makan.
"Lagu itu..." Ayah memulai, suaranya bergetar. "Saat nada-nada tajam itu dimainkan, aku... aku teringat saat-saat terakhir bunda . Itu sangat menyakitkan. Aku minta maaf, Nak."
Aku mengerutkan kening. "Minta maaf untuk apa, Yah?"
Ayah menundukkan kepalanya. "Minta maaf karena aku... aku gagal menjadi orang tua yang baik setelah bunda pergi. Aku tahu kamu kesepian. Aku melihat kamu tumbuh menjadi remaja yang pintar dan berbakat, tapi aku terlalu pengecut untuk menghadapimu."
"Setiap kali aku melihatmu, aku selalu teringat Bunda. Cara dia bangga padamu saat kamu latihan biola, cara dia tersenyum saat kamu berceloteh tentang fashion dan make up." Ayah berhenti sejenak, mengusap air mata dengan punggung tangannya yang kasar. "Aku pikir jika aku sibuk, jika aku fokus pada pekerjaanku, aku tidak perlu merasakan sakit itu. Tapi ternyata... sakit itu tidak hilang. Rasa sakit itu hanya terbungkus dalam keheningan antara kita."
Aku terdiam. Lima tahun, lima tahun aku mengira ayah mengabaikanku karena pekerjaan dan dunia IT-nya lebih penting. Ternyata, dia juga berjuang dengan caranya sendiri, bersembunyi dari kenangan Bunda yang begitu menyakitkan.
"Aku juga, Yah," bisikku. "Aku... aku juga bersembunyi. Aku bersembunyi di balik biola ini. Melodi ini adalah caraku marah, caraku sedih, caraku bicara dengan bunda. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, terutama saat aku sudah lebih dewasa sekarang dan punya banyak hal untuk diceritakan."
Ayah menatap biola yang masih kupegang. "Bunda... Bunda akan sangat bangga mendengarnya. Dia selalu tahu kamu punya bakat besar dalam musik." Ayah tersenyum tipis, senyum yang tulus, bukan senyum formalitas yang selama ini ia pasang. "Dia selalu bilang, Eli akan menjadi pemain biola terkenal. Dia akan menjadi yang terbaik."
"Ayah ingat?" tanyaku, sedikit lega.
"Tentu saja aku ingat. Bagaimana mungkin aku melupakan impianmu?" Ayah berbalik, berjalan menuju tempat duduk di sofa kamar. "Duduklah, Nak. Mari kita bicara, bukan sebagai Ayah dan anak yang canggung, tapi sebagai dua orang yang kehilangan wanita hebat yang sama."
Aku duduk di samping Ayah. Udara dingin yang selama lima tahun menyelimuti kami berdua seolah mencair.
"Eli," kata Ayah lembut. "Aku tahu biola bukan hanya hobi, itu adalah jiwamu. Aku melihat videomu. Aku melihat seberapa jauh kamu melangkah, meski tanpa dampingan bunda."
"Aku mohon maaf karena telah mengabaikan bakatmu. Aku ingin kamu tahu, aku mendukungmu. Aku akan menjadi penonton setiaku, seperti Bunda dulu."
Aku tidak bisa menahan lagi. Air mata yang bercampur antara kesedihan, haru, dan lega tumpah. Aku memeluk Ayah. Pelukan yang sangat kuinginkan sejak lama. Pelukan itu terasa canggung pada awalnya, tetapi perlahan, pelukan itu menjadi erat dan hangat, pelukan yang kubutuhkan sejak usia 12 tahun.
"Terima kasih, Yah," ujarku sambil terisak. "Aku hanya ingin Ayah tahu, aku tidak pernah berhenti merindukan Bunda. Dan aku ingin terus bermain, agar Bunda bisa terus mendengarku."
"Dia mendengarmu, Nak. Aku yakin dia mendengarmu. Dan aku juga akan mendengarmu. Selalu," janji Ayah.
Ayah melepaskan pelukan itu dan menatapku. "Jadi, setelah cover lagu ini, apa rencana besarmu, pemain biola hebat?" tanyanya, nada suaranya kini kembali mengandung humor ringan yang sudah lama hilang.
"Emm ... Mungkin aku terus membuat konten cover lagu dengan pakaian seperti di majalah ini," aku menjawab pertanyaan itu dengan penuh riang sambil mengambil dan membuka majalah tua.
Biola telah menjadi jembatan. Musik telah meruntuhkan dinding ego dan kesedihan di antara kami. Lima tahun keheningan, akhirnya terpecahkan oleh "You Raise Me Up."
Malam itu, aku tidak hanya tidur dengan lega. Aku tidur dengan damai. Mimpi itu mungkin akan datang lagi, tetapi aku tahu, wanita cantik bergaun putih itu akan tersenyum. Dan kali ini, di dunia nyata, aku tidak lagi sendiri. Aku memiliki Ayah, dan kami memiliki Bunda, dalam setiap melodi yang ku mainkan.