Minggu, 19 Februari 2023

Perjalanan Kecilku


Masa Yang Sulit Untuk Dilalui


Kevin merupakan seorang pelajar kelas dua SMPN Indah. Dia dari tiga bersaudara. Dia merupakan anak yang teladan, dia selalu mengerjakan tugas tepat waktu, dia memiliki prestasi akademik di sekolahnya. Ya, walaupun dia sering diejek oleh teman-temannya karena dia suka membaca buku, dan dia sering dijuluki 'Bocah Kutu Buku'. Namun dia menghiraukannya, dia membiarkan teman-temannya mengejeknya. Di semester pertama bulan kelima penilaian akhir semester diumumkan oleh Bu Guru. Mendengar apa yang dibicarakan oleh guru dia menulis semua yang diberitahukan, dari dimulai tanggal berapa berakhir tanggal berapa, jadwal pelajaran yang maju di penilaian akhir semester nanti, dan materi-materi yang disampaikan oleh guru. Seorang anak yang duduk disamping Kevin berkata "hey! Niat banget kamu nulis sebanyak itu. Apa nggak capek nulis mulu?"."Emm.. Sebenernya capek sih, cuman aku mau mempersiapkan penilaian akhir semester ini dengan baik." Jawabnya. "Halah, nggak usah belajar. Kan materinya gampang." Ujar teman sebelahnya. "Em.. enggak ah, aku mau tetep belajar walaupun ini mudah, dan aku belajar untuk nilai yang sempurna." Jawab Kevin sambil tersenyum. Setelah penyampaian pengumuman, bel istirahat berbunyi "Teng..Teng..Teng..Teng.." "Yeah akhirnya istirahat" Teriak anak yang bernama Ditya. "Anak-anak pelan-pelan!" Teriak Bu Guru. Semua murid telah keluar dari kelas, didalam kelas hanya tersisa Kevin. Melihat Kevin duduk sendirian di kursi, Bu guru mendatangi Kevin dan bertanya "Kevin. Kenapa kamu tidak istirahat terlebih daluhu? Teman-temanmu sudah berada diluar semua." "Nanti saja Bu, saya sedang mengecek pengumuman yang ibu sampaikan tadi." Jawab Kevin dengan tersenyum. "Baiklah kalau begitu, ibu permisi dulu ya," sahut bu guru dengan wajah tersenyum. "Iya Bu, silahkan" Jawab Kevin kembali. Tiga menit berlalu. Kevin telah menyelesaikan semuanya. Ia pun bergegas menuju kantin untuk membeli makan dan minum. Sesampainya dikantin, suasana kantin sangat ramai dan penuh. Setelah sudah mulai tidak ramai dan tidak penuh Kevin berjalan menuju ibu penjual bakso. Saat sampai "Bu saya beli bakso biasa, es teh, sama tempe goreng tiga." Minta Kevin. "Baik, saya siap kan dulu ya." Jawab ibu penjual bakso dengan senyum. Semuanya sudah jadi, "Semuanya berapa bu?" tanya Kevin. "Bakso biasa lima ribu, es teh dua ribu, sama tempe goreng tiga, tiga ribu, jadinya sepuluh ribu." Jawab ibu penjualnya. "Ini bu uangnya." "Uangnya dua puluh, kembali sepuluh ribu. Terimakasih." Ujar ibu penjual dengan tersenyum. "Terimakasih kembali bu" sahut Kevin. Kemudian Kevin mengambil mangkuk berisikan bakso dan gelas es teh, beserta gorengannya dan duduk kemudian makan. Selesai makan bel masuk kelas bunyi "Teng..Teng..Teng..Teng.." Kevin mengembalikan mangkuk dan gelas kepada ibu penjual bakso itu tadi. Dia berlari menuju ruang kelas delapan b. Pelajaran pun dimulai kembali. Pukul 14.15 bel pulang sekolah, "Teng..Teng..Teng..Teng..". "Wooo... Pulang sekolah yey" Teriak temannya Ditya. Kevin berkemas-kemas buku dan tempat pensil. Ia hampir kelupaan bahwa ia meminjam pensil milik teman perempuan, yang bernama Tata. Kevin berjalan menuju meja Tata, "Tata terimakasih ya sudah meminjamkanku pensil, dan maaf ya kalo aku merepotkan kamu." kata Kevin kepada Tata. Tatapun menjawab "Iya, nggak papa kok. Aku senang bisa membantu kamu" Jawab Tata dengan senyum. "Yaudah kalo begitu, aku pulang dulu ya. Dada sampai jumpa." Sahut Kevin. Kevin pun jalan menuju luar gedung sekolah, hingga dia menemukan tumpangan angkot. "Pak!" Teriak Kevin memanggil supir angkot itu. Kevin berjalan dan menaiki angkot itu. "Mau kemana dik?" Tanya supir angkot. "Ke rumah saya di jalan Tulip" Jawab Kevin. "Oke, duduk dulu." sahut supir angkot itu. Sesampainya di rumahnya Kevin berjalan dan sambil memberikan uangnya kepada supir angkot. "Ini pak uangnya. Terimakasih ya sudah mengantarkan saya," kata Kevin sambil memberikan uangnya kepada supir angkot itu. "Sama-sama dik" Jawab supir angkot itu dengan tersenyum. Kevin pun keluar dari angkot itu dan berjalan menuju rumahnya yang berada di gang yang lumayan sempit, yang terletak di wilayah persawahan. Saat sampai dirumah dia merasa sedikit ragu untuk masuk kedalam rumah, karena orang tuanya selalu saja bertengkar. Kevin mencoba untuk masuk, namun dia agak sedikit takut. Dia masuk perlahan-lahan, dan melepas sepatu yang dikenakannya. Dia mencoba untuk tetap diam dan tidak berisik. Dia berjalan menuju kamarnya. Saat sampai dikamarnya dia menaruh tasnya di kursi, dan melepas seragam dan ganti dengan pakaian rumah. Setelah itu dia membereskan buku-buku yang ia bawa ke sekolah tadi. Kemudian dia keluar kamar dan makan siang. Mendengar orang tuanya yang masih bertengkar ia ingin sesegera mungkin untuk keluar dan menjual stiker yang dibuatnya sendiri. Selesai makan dia mecuci piring dan bergegas untuk keluar dan mencari tempat ramai dan menjualnya disana, ia juga menitipkan stikernya kepada toko buku disekitar agar dia mendapatkan untung. Hari ini banyak sekali pembeli yang membeli stiker milik Kevin karena stikernya memiliki bentuk dan gambar yang lucu, unik, keren dan sebagainya. "Wah.. pembeli hari ini sangat ramai dibandingkan hari hari kemarin." Ucapnya dalam hati. Saat sore hari seluruh dagangannya terjual habis, dan dia bisa pulang dengan cepat. Dia juga mampir ke toko-toko yang dia datangi dan menanyakan hasil penjualannya, dan ternyata juga sama penjualannya terjual habis. Penjual toko buku itu memberikan uang kepadanya. Kevin pun berjalan pulang kerumah. Setibanya dirumah ia masuk dengan suasana yang sepi hanya televisi yang menyala. Dia melihat ibunya sedang berada di dapur memasak untuk makan malam, dan ia juga melihat ayahnya yang hanya bermain ponsel. Lalu dia memberanikan diri untuk berkata kepada ayahnya "Ayah, mengapa kau hanya tiduran sambil bermain ponsel saja, apakah tidak lelah? Lihat ibu! Dia lelah dengan sikap ayah yang seperti itu hanya mementingkan ponsel saja. Bantulah ibu setidaknya hal-hal kecil, ibu sudah cukup senang bukan?" Mendengar hal itu ayahnya merasa bersalah dan meminta maaf kepada Kevin beserta dua adiknya dan juga ibunya. "Nak, ayah minta maaf. ayah tidak menyadari perbuatan ayah sendiri." Ujar ayah kepada Kevin. Ayah juga meminta maaf kepada ibu, karena sering memarahinya. Dengan rasa yang lega Kevin masuk ke kamarnya dan mengambil dompet yang dibawanya dan dia menghitung uang yang dia dapat. "Wah.. banyak juga ya, penghasilannya. Mungkin aku bisa membagikannya kepada adik-adikku."Kevin berbicara sendiri. Ibu yang tidak sengaja melewati kamar Kevin melihat dia sedang gembira hatinya langsung masuk kekamar Kevin, dan berkata "Kevin, kau sedang apa?" "Aku sedang menghitung uang hasil jual stiker tadi bu."Jawab Kevin. "Oh, sebaiknya kamu simpan uang itu agar kamu bisa menikmati hasil kerjamu sendiri. Atau kamu bisa berbagi dengan kedua adikmu." Ujar Sang Ibu. "Baik bu," kata Kevin. Kemudian sang ibu meninggalkan Kevin, dan melanjutkan memasak. Lalu Kevin membagikan uang hasil jualannya kepada kedua adiknya yang bernama Rafa, dan Niel. Setelah itu dia berniat untuk membantu ibunya mencuci piring, dan memasak. Mereka semua berkumpul di meja makan lalu makan bersama. 

Pada bulan kelima semester pertama di hari Senin, ulangan penilaian akhir semester pertama dimulai, hingga selesai. Semester kedua pada bulan Januari. Dia semakin giat untuk belajar hingga dia SMA. Dia tidak lupa dengan semua kewajiban yang ia terapkan sebagai penjual stiker tapi bukan hanya penjual stiker dia juga bekerja sebagai pelayan di toko buku, untuk membiayai sekolahnya. Karena sang ayah mendidiknya secara ketat dan disiplin. Mungkin ini terlihat aneh untuk pelajar SMP maupun SMA. Seiring berjalannya waktu, Kevin hampir menyerah untuk melanjutkan sekolahnya. "Apakah aku harus berhenti sekolah? Aku sudah lelah dengan kehidupanku saat ini. Apakah aku harus menyerah? Apakah aku harus berhenti?" Pikirnya. Kemudian dia menemui ayahnya sedang membaca koran di depan rumah. Lalu ia bercerita semua keluh kesahnya pada ayahnya. Kemudian ayahnya berkata, "Kamu tidak perlu berhenti, kamu tidak perlu menyerah. Ada kala saat kamu berhenti dan menyerah. Dahulu ayah juga begitu, lelah dengan belajar dengan ujian sekolah. Namun kakekmu berkata kepada ayah sejak ayah masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Beliau mengatakan 'Mungkin hari ini kamu lelah, dan menyerah. Namun saat kamu dewasa nanti semua ilmu yang kamu dapatkan bisa memimpinmu untuk naik ke tangga yang lebih tinggi dari yang sekarang kamu berada.' Kata-kata itu selalu melayang dibenak ayah. Emm.. Ada satu hal lagi yang ayah ingin sampaikan. Hidup ini layaknya seperti pesawat kertas yang terbang melayang di udara. Awalnya kamu tidak tahu cara melipatnya, kamu gagal coba lagi gagal lagi, coba lagi gagal lagi, hingga terus-menerus begitu. Pada akhirnya kamu bisa melipatnya dan menerbangkannya hingga jauh. Jangan melihat jauh dekatnya pesawat itu terbang malinkan apa yang dilalui oleh pesawat itu. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mencapai cita-citanya. Dan cobaan untuk mencapai tujuannya." Kata ayah, kepada Kevin.  Kevin pun tidak jadi untuk menyerah. Namun godaan-godaan untuk menyerah terus melampaui dipikiran Kevin.

Tetapi ia sadar dengan kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya. Kevin sendiri juga terus memotivasi dirinya untuk terus maju ke tangga berikutnya. "Aku percaya pada diriku sendiri. Jangan menyerah. Cobalah walau pada akhirnya kamu gagal, jadikan kegagalan sebagai contoh, sebagai pelajaran untuk diriku." Kata-kata itulah yang selalu melayang dibenak Kevin. Satu bulan lagi Kevin lulus SMA, untuk ujian akhir tahun, dan ujian kelulusan. Singkat cerita Kevin terlah berhasil melalui ujian kelulusan dengan nilai yang sangat baik. Itu karena berkat kata-kata ayahnya dan kata-katanya sendiri

Ia melanjutkan kuliahnya di jurusan menejemen kuliner. Karena cita-cita masa kecilnya menjadi seorang chef. Ia menginginkan dirinya untuk bisa bekerja di sebuah kapal pesiar yang mungkin cukup mewah atau pun di hotel bintang lima. Untuk bisa mengejar cita-cita itu dia harus lebih bisa belajar tentang makanan makanan yang dia olah, menjadi makanan yang sangat enak.


Rabu, 25 Januari 2023

Terjebak Di Pulau Misterius

 TERJEBAK DI PULAU MISTERIUS

DAFTAR CERITA

1.  KUNCI MISTERIUS.....

2.  TERSESAT DI PULAU ARCANUM........

3.  MENEMUKAN  LUBANG RAKSASA........

4.  KEMBALI KE ZAMAN PURBA..........


KUNCI MISTERIUS

Di pagi yang cerah, di suatu kampus murid-murid di kampus berdatangan. "Hai David," sapa Jean. "Oh, hai Jean,'' sapa David. Meraka saling menyapa dan berjalan sambil masuk kedalam kelas. Sesampainya didalam kelas mereka pun mengobrol. "Jean katanya hari ini ada kuis ya? Aku belum siap sama sekali nih," kata David. "Kenapa?" Tanya Jean "Semalam aku bermain game sampai larut malam. Jadi aku tidak sempat baca-baca buku pelajaran." Jawab David. Saat mereka sedang asyik mengobrol bersama, mereka tidak sengaja bertemu dengan Felice. "Hai Felice, gimana kabarmu?" Sapa Jean. "Hai juga Jean, baik kok." Jawab Felice. "Katanya kamu baru saja pindah rumah ya?" Tanya Jean. "Iya, menurutku rumah baruku seperti ada yang  aneh" Jawab Felice. 

Kemudian mereka berjalan menuju ruang kelas dan masuk kedalam kelas, mereka duduk sambil mengobrol untuk menungu Pak Guru datang. "Selamat pagi kelas" Sapa pak Guru. "Pagi pak" Sapa balik para murid-muridnya. "Hari ini kita akan kuis ya!" Kata Pak guru. David pun yang kebinggungan sambil bertanya kepada Joni, saat soal kuis dibagikan. "Dalam hitungan tiga...dua...satu mulai. Waktu mengerjakan 35 menit! Dengan jumlah soal 38." Mereka pun mengerjakan soal kuis dengan cepat. "Shhtt,, Jon..shhtt Jon nomer 3 apa jawabannya?" Tanya David. "D" Jawab Joni. "Oh oke. makasih." ucap David sambil mengucapkan terimakasih. David pun hanya mampu mengerjakan setengahnnya. Dan akhirnya David pun mendapatkan nilai 75 sedangkan yang lain diatas nilai David. 

Saat pulang sekolah David, Jean, Felice, Joni, Yovi,dan Vero berkumpul di perpustakaan untuk membahas tentang sebuah kunci, dan kertas yang ada dirumah baru Felice. "Teman-teman aku menemukan kertas dan kunci misterius yang ada di dalam gudang bawah tanah dirumah ku. Kalian tahu nggak apa ini?" Tanya Felice dan sambil menjelaskan apa yang ada diranselnya. "Kemungkinan kunci itu adalah kunci untuk membuka sebuah kotak atau buku ajaib yang mempunyai lubang, kalau kertas itu kemungkinan sebuah peta." Jawab Yovi. "Sepertinya begitu kalau begitu besok kita akan kerumah Felice untuk mencari tahu, gimana?" Sahut Joni. "Baiklah kami setuju," jawab yang lain.

Saat mereka pulang sekolah Yovi dan Jean tetap berada di dalam perpustakaan untuk mencari buku yang dikatakan Yovi tadi. Mereka berkeliling perpustakaan, "Yovi ayo kita cari buku yang kamu sebutkan tadi siapa tahu ada di dalam perpustakaan ini" Ajak Jean , "Hmm.. baiklah kalau begitu" jawab Yovi. Setelah sekian lama mereka mencari buku ajaib, mereka tidak menemukan buku ajaib itu. "Huh.. capeknya mencari buku ajaib itu," keluh Jean, "Mungkin buku itu ada di dalam gudang bawah tanah milik Felice" Ucap Yovi."Hmm.. benar juga. Kalau begitu besok saja kalu kita kerumah Felice." Kata Jean. "Baiklah" sahut Yovi 

Kemudian hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mereka semua telah bersiap berangkat ke rumah Felice. Saat tiba dirumah Felice mereka disambut oleh keluarga Felice. "Hallo, ini teman-teman Felice ya?" sambut ibu Felice dengan sangat gembira, dan sambil bertanya kepada teman Felice. "Iya tante, kami semua teman Felice," jawab Jean. "Oh, kalau begitu silahkan masuk saja," ajak Ibu Felice untuk menuyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah,"Baik tante terimakasih." Jawab Jean. "Ayo masuk saja,: ajak Felice. Saat mereka masuk dan duduk, Ibu dan Felice membuatkan mereka minuman dan menyiapkan makanan untuk teman-teman. "Ini teman-teman makanan dan minumannya," kata Felice. "Ah, tidak udah repot-repot Fel, kami minum air putih saja tidak apa-apa kok" Kata Joni. Felice tetap menyuguhi teman-temanya.  

Setelah hampir setengah jam mereka berbincang-bincang, Ayah Felice mengatakan " Ada sesuatu hal yang aneh di rumah ini. Lebih tepatnya di gudang bawah tanah."  Lalu Yovi pun mengeluarkan laptopnya, dan mengatakan: "Kemungkinan itu adalah sebuah kunci kecil yang akan membawa kita ke Pulau terpencil yang bernama Pulau Yopi. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Pulau Yopi, dan hanya ada satu jalan keluar, tempat itu adalah tebing yang sangat tinggi, curam, dan jalannya bisa dibilang sangat sempit."  "Sesempit apa jalannya?" Tanya Vero. "Ya.. mungkin sekitar 40,8-90,3 cm" Jawab Yovi. "Sesempit itukah. Jadi kami harus berhati-hati dong?" sahut Vero.  "Iya" Jawab Yovi. "Kalau tidak?" Tanya Vero balik. "Kalau tidak ya... kamu harus mengulanggi dari awal permainan ini lagi," Jawab Yovi. "Jadi ini semua adalah permainan?" Tanya Joni. "Iya," jawab Jean sambil melihat kearah laptop Yovi. "Kenapa tidak bilang dari awal?" Kata Joni dengan nada yang sedikit agak merasa kesal.

Saat mereka mengobrol tiba-tiba saja mereka mendengar ada suara misterius, dengan suara yang mengelega. Setelah mendengar itu mereka langsung terdiam, "Grrrr......grrr....grrrr......" Suara itu terdengar sangat kencang. "Su..su..suara apa itu?" Joni bertanya sambil ketakutan. "Halah paling itu cuma dibuat-buat aja. Tenang biar aku yang mencari suara itu berasal," jawab Jean. "Tidak usah kita cari bersama saja agar mudah mencarinya. Gimana?"Tanya Joni. Kemudian mereka setuju dengan pendapat Joni. 

Kemudian mereka mencari asal suara itu. Sebelum itu,"Teman-teman tunggu akan aku bicarakan pada Ayah dan Ibuku terlebih dahulu." Kata Felice kepada teman-temannya."Emm..Baiklah, kami akan menunggu."Jawab Vero. Kemudian Felice berjalan dan berkata kepada ayah dan ibunya:"Ayah, Ibu kita akan mencari suara misterius itu. Dan ayo kita cari bersama-sama dengan teman-temanku!" Felice mengajak orang tuanya untuk mencari sumber suara itu berasal.

Dan kemudian mereka berjalan bersama menuju gudang bawah tanah. Ayah Felice menunjukkan tempat itu berada. "Anak-anak ini tempatnya," kata Ayah Felice. Kemudian merekapun menuju gudang bawah tanah. Ayah Felice menyalakan lampu. "Eeee.. kenapa tempat ini kotor sekali? Dan bau." Kata David. "Entahlah, mungkin belum dibersihkan atau tidak pernah dibersihkan," kata Felice. 

Kemudian mereka pun mejelajahi tempat itu, lalu Yovi menemukan kotak ajaib yang besar. "Teman-teman, aku menemukan sebuah kotak." kata Yovi. "Kotak apa itu?" Tanya Jean. Lalu David dan Vero mengangkat kotak itu dan membukanya. "Ah... kotak ini sangat berat kami tidak tahan lagi, bantu kami." Kata Vero. Kemudian Ayah Felice dan Felice datang untuk membantu. "Baiklah kami akan membatumu." Kata Felice. Mereka mengangkat dan membukanya. Yovi pun membuka dan, "Kotak ini tidak bisa dibuka sama sekali," kata Yovi. " Mana biar aku coba!" Kata Joni. Joni pun membuka dengan sekuat tenaga, dan akhirnya terbuka. "Hah? Hanya ini saja isinya? Kotaknya besar berat lagi tapi isinya kecil!" Kata Joni. Yovi datang kepada Felice untuk menanyakan apakah dia membawa buku dan kertas. "Felice, kamu bawa kertas dan bukunya?" Tanya Yovi. "Emm.. Tidak, akan aku ambilkan segera," Felice menjawab dan berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil buku dan kertas itu. Lalu Felice kembali ke gudang bawah tanah dan menunjukan buku dan kertas yang dibawanya. "Ini buku dan kertas yang kamu minta." Kata Felice. "Terimakasih, Felice" Sahut Yovi. "Sana-sama" Jawab Felice. 

Yovi pun berjalan menuju kotak itu dan menemukan persamaan kotak pada gambar di buku dan kotak yang ia temui. "Aku menemukan persamaan kotak ini pada gambar di buku ini, yang tertulis, dimana kotak ini mempunyai beberapa jenis kunci untuk kita masuki kedalam lubang yang terletak didalam goa." Jelas Yovi kepada mereka semua. 

Kemudian mahkluk misterius datang dan muncul secara tiba-tiba, dan berkata "Hei kalian, bisakah kalian menolong anakku yang terjebak di Pulau Arcanum?". "Hah Pulau Arcanum?" Tanya Joni. "Pulau Arcanum adalah pulau misterius yang dimana para manusia tidak bisa melihatnya. Mereka hanya bisa melihat jika mereka mempunyai satu buah kunci misterius." Jelas Si makhluk aneh itu. "Hmm.. Baiklah kami mengerti," kata Yovi. 

Lalu mereka mengambil buku yang diberikan oleh makhluk itu. Kemudian Yovi membuka buku itu lalu mereke dihisap oleh buku itu. "Tunggu! Apa ini?" Tanya David. "Aku juga tidak tahu!" jawab Jean. Mereka dihisap habis oleh buku itu dan buku itupun menutup seketika.

Mereka pun tiba ditempat yang sanggat asing. "Dimana kita?" tanya Jean. "Di pantai lah, kan kita dipantai" jawab Vero. "Stttt..." Yovi menyuruh semua untuk diam. Yovi menemukan sebuah kertas yang tersimpan didalam botol kaca. Yovi mengambil botol kaca itu lalu membuka dan mengambil kertas tersebut. Kertas tersebut saat dilihat kosong dan tidak ada tulisan sama sekali. "Kenapa kertas ini kosong. Dan hanya tertulis 'Pasang kunci itu'." Jelas Yovi. "Tunggu Yovi aku punya kuncinya." Kata Jean. Jean pun menempelkan kunci itu pada kertas, dan sesuatu muncul dari kertas itu. Ternyata itu adalah gambar peta.

Kemudian Yovi mengajak semua teman-temannya untuk mengikuti petunjuk dari peta itu. "Teman-teman, peta ini mengarah ke timur." Kata Yovi kepada teman-temannya. Saat mereka mengarah ke timur mereka tiba di hutan, dan peta itu menyuruh mereka untuk menemukan goa. Tiba di tujuan mereka menemukan sebuah kotak kayu yang berisikan sebuah kunci. Ayah Felice membuka kotak itu dan menyimpannya didalam kantong saku celananya. Mereka melanjutkan perjalananya menuju Bukit Nobi. Saat hampir mendekati puncak mereka bertemu dengan peri, lalu peri itu berkata "Hati-hati, disini banyak sekali rintangannya!". "Kenapa?" Tanya Felice. "Disini banyak sekali jebakan yang dipasang oleh penjahat. Jadi kalian harus berhati-hati, dan perhatikan satu sama lain." Jawab Sang Peri, lalu peri itu pergi dan menghilang.

Tak disangka David tidak sengaja menyenggol batu dan lubang yang dibuat penjahat itu pun terbuka. David melakukannya dengan tidak sengaja, dan ia meminta maaf. Kemudian Ayah Felice memberi tahu semua untuk mencari tempat bersembunyi agar para penjahat tidak bisa menangkapnya. Untungnya Yovi memiliki kain transparan yang tidak bisa dilihat maupun disentuh. Mereka menemukan lubang lalu bersembunyi dengan menggunakan kain transparan milik Yovi. Kemudian para penjahat datang dengan suara mobil yang amat bising. "Apa mungkin kita menangkap sesuatu?" tanya penjahat yang duduk disamping sopir, "Entahlah," jawab sopir penjahat itu. Saat setelah sampai di pegunungan dan menemukan ada yang berlubang dan penjahat itu berkata, "Eh.. lihat ada yang jatuh!" "Ayo kita lihat," ajak temannya. Setelah berlari dan melihat apa yang mereka temukan,"Yah.. kosong. Hanya batu". Mereka sangat kecewa dan sambil menghela napas. Mereka tidak menemukan apa-apa, yang mereka temukan hanyalah batu besar. Lalu mereka pergi dan meninggalkan tempat itu. Setelah pera penjahat pergi Yovi, Felice, David dan kawan-kawannya mereka melanjutkan perjalanan yang panjang.

Tiba saatnya malam hari, ayah Felice, Joni, Yovi, Jean, dan Felice mencari batang kayu untuk menyiapkan api untuk penerangan dimalam hari yang gelap. Melihat David hanya tiduran santai di tanah Jean berkata "Hey.. Mengapa kau hanya tiduran santai di bawah sana? Cepatlah bantu kami mencari batang kayu untuk malam nanti!" "Hahh... Malas, perjalanan ini membuatku kelelahan. Aku hanya ingin tidur dan beristirahat." Jawab David. "Kita disini juga lelah, tapi kami harus mencari batang kayu untuk penerangan malam nanti. Jika tidak ada penerangan kau tidak bisa melihat apa-apa, yang kau lihat hanyalah hitam gelap menyeramkan. Cepatlah bantulah kami David!" Balas Jean dengan bijak. "Hmm.. Baiklah kalau kau yang menyuruh," jawab David. Mereka berjalan menusuri bukit dan hanya menemukan dua puluh empat batang kayu. Lalu mereka mengunpulkan dan menaruhnya di atas batu yang sudah disusun oleh Ayah Felice. Kemudian Ayah Felice mengambil dua buah batu untuk menyalakan percikan api. "Sttt,sttth" Suara percikan api yang mulai menyala. Api pun mulai menyala. "Eih.. aku merasa lapar," "Aku juga" Kata Felice dan Jean. "Tunggu, Felice ayahmu pergi kemana? Ayah..! Ayah! Ayah!" Ibu Felice mencari Sang Ayah. Ayah Felice muncul dengan membawa sekantung ikan yang penuh dan seekor kambing kecil. "Aku datang." Teriak Sang Ayah. "Dari mana saja Ayah? Kenapa kau tidak memberi tahuku?" Tanya Sang Ibu dengan nada marah. "Em.. Maafkan aku. Aku tadi tidak memberi tahumu dari awal. Jadi Maafkan aku." Jawab Sang Ayah. Mereka mulai mengambil ikan dan dipangang di atas api panas. Ayah Felice sedang memotong kambing kecil, yang jaraknya agak dekat dengan mereka. "Iyuh.. Itu sangat sangat menjijikan, dan juga baunya membuatku ingin muntah. Sebaiknya kau minggir dari sini sekarang juga!" Suruh Sang Ibu untuk meminya Sang Ayah untuk segera menyingkir dari mereka. Setelah selesai memotong kambing kecil, mereka memasaknya bersama, dan memakannya. Setelah mereka selesai makan mereka semua tidur. Keesokan harinya mereka bangun dan segera pergi dari tempat itu dan mematikan api unggunnya dengan menyiramnya dengan air. Felice tiba-tiba saja menemukan sebuah pintu yang entah menuju kemana. "Teman-teman, aku menemukan pintu," kata Felice. "Pintu ini menuju kemana?" Tanya Joni kepada Felice. "Emm.. Entahlah. Kalau begitu kita masuk saja." Jawab Felice. Kemudian mereka memasuki pintu misterius itu. Seketika mereka sampai di dalam gua yang gelap dan tanpa penerangan sedikitpun. "Kenapa disini gelap sekali?" Kata Jean. Kemudian Yovi mengambil tas dan mengambil senter, lalu mengambil dua buah batu dan sebatang kayu besar dan mengambilnya untuk menjadikannya penerangan. "Grrr...Grrr...Grrr...Grrr" Suara beruang terdegar. "Su suara apa itu?" Tanya David si penakut. "Shuut... diam nanti kita ketahuan lho!" Jawab Yovi. "Tttapi itu suara apa?" Tanya David lagi. "Itu suara beruang, shuut jangan teriak nanti ketahuan" Jawab Yovi kembali. "Beruang? Aaaaa...." teriak David. "Dasar cowok penakut, heh" Ujar Jean. "Shhuuut.. Jangan teriak." Kata Yovi. Tuan beruang pun mendengar teriakkan itu mengaum dan mengejar mereka dari belakang. Yovi yang mendengar suara beruang itu langsung berteriak "Semuanya lari...!". Seketikapun beruang itu hampir menerkam mereka. Mereka menemukan gua kecil dan cepat-cepat masuk kedalamnnya. Mereka masih ketakutan dan mencoba untuk menenangkan diri. Kemudian Yovi berjalan kearah David dan memarahinya karena sudah diperingatkan untuk tidak berteriak, namun dia tetap berteriak. David pun meminta maaf kapada Yovi karena dia benar-benar merasa ketakutan. "Duh..Aku lapar nih. Kita mau makan apa?" Keluh Felice. "Tenang saja Felice, Ayah bawakan buah-buahhan untuk kalian semua. Setelah kita makan kita akan keluar dari sini dan pergi. Oke?" Kata ayah Felice. "Baiklah, ayah," jawab Felice. Ayah Felice segera mengambil tasnya dan mengeluarkan. "Ini buahnya, ada apel, jeruk, dan pir."Kata ayah Felice. Kemudian mereka mengambil buah satu per satu dan memakannya. 

Seorang peri datang menemui mereka semua, dan sambil berkata "Hai semuanya, apa kabar? Kita bertemu lagi nih". "Kamu peri yang mendatangi rumahku ya?" Tanya Felice. "Iya, Omong-omong aku kesini untuk membawa kalian untuk pergi dari tempat ini."Jawab peri kecil itu. "Keluar dari sini? Kami tidak bisa, diluar ada tuan beruang jadi kami tidak bisa keluar." Jawab Felice sambil mengelengkan kepala. "Aku bisa membawamu keluar tanpa sepengetahuan tuan beruang itu, dan aku punya benda kecil ajaib yang akan membawamu keluar dari gua ini" Ujar peri kecil itu sambil mengeluarkan benda bola kecil ini. "Ini dia," peri kecil itu mengeluarkan bola kecil dan melemparnya hingga bola itu menjadi raksasa. "Wow! Benda itu sangat keren. Bagaimana kau membuatnya?" Kagum Joni. "Ini dibuat dengan ramuan rahasia. Jadi kamu tidak bisa membuatnya asal-asalan." Jawab peri kecil. "Baiklah kalian masuk kedalamnya aku akan mengemudikan bola ini. Ayo naiklah!" Ajak peri kecil itu. Mereka semua naik kedalam bola raksasa itu. Peri kecil itu segera mengemudikan bola itu. Peri itu menyalakan tombol lingkaran yang menunjukkan bahwa bola itu akan berubah menjadi transparan dan tidak terlihat oleh beruang itu. "Awas! ada beruang!" Jean memperingatkan peri itu, dan peri itu berkata "Tenang saja kita tidak akan terlihat. Kita akan melewati para beruang dan kalian harus tetap tenang, diam, dan jangan berteriak." Peri itu melewati para beruang, dan benar saja beruang itu tidak menyadari kalau bola besar itu melewati beruang itu. "Huh.. Hampir saja" Kata Jean. Merekapun sampai di luar goa dan mereka diberi pegangan untuk dibawa oleh Yovi dan teman-temanya agar selamat dari bahaya. Mereka melanjutkan perjalanannya. 

Setelah sekian lama mereka berjalan, akhirnya mereka menemukan pintu gerbang yang tertulis pada kertas peta mereka. Dan mereka membuka pintu gerbang itu dan masuk kedalamnya. Tiba-tiba saja mereka tidak tahu, mereka ada dimana. 

Kamis, 15 Desember 2022

Cerita Tentang Aku

Namaku Stefanny Chloe Cornelia, aku biasa dipanggil Chloe. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku sedang menempuh pendidikan Universitas Kedokteran Indonesia. Aku ingin sedikit bercerita tentang diriku yang dulu.

Aku berasal dari keluarga berkecukupan. Dahulu aku adalah anak yang murah senyum, periang, dan murah hati, memiliki senyum yang manis, wajahku imut, dan halus layaknya kulit bayi. Sewaktu masih bersekolah di taman kanak-kanak aku memiliki beberapa penghargaan yaitu meraih penghargaan juara tiga dan juara dua lomba fashion show. Waktu itu aku sangat senang memiliki penghargaan itu, dan aku berhasil membuat kedua orang tuaku tersenyum, walaupun itu belum sepenuhnya. 

Kemudian aku naik ke jenjang berikutnya yaitu Sekolah Dasar. Saat pertama kali aku duduk di bangku kelas 1 SD aku adalah anak yang pemalu. Aku mencoba untuk membuka diri kepada teman-temanku dulu. Semakin lama aku menjadi sangat dekat dengan teman-temanku. Hingga aku memiliki tiga orang sahabat yang masih dekat hingga saat ini, mereka adalah Lia, Eve, dan Chika. Mereka satu kelas denganku selama 5 tahun di SD. 

Saat aku lulus SD Eve teman satu SMP denganku. Aku satu kelas dengannya selama dua tahun. Saat SMP kita selalu bersama walau beda sekolah. Tapi aku senang masih bersama dengan mereka waktu itu. Banyak hal yang kita lakukan saat masih SMP. Yaa.. walaupun aku sendiri adalah anak yang nakal saat itu, dan Eve selalu menegurku saat aku berbuat salah. Saat itu aku sudah menentukan jalanku, yaitu masuk ke Universitas Kedokteran Indonesia terbesar. Selain itu targetku yang lain yaitu menempuh pendidikan di universitas dokter di Jerman. 

Lulus SMP, aku dan Eve sudah tidak satu sekolah lagi. Dia sudah memilih ke SMK bukan SMA. Aku melanjutkan sekolah SMAku, saat waktu ini aku benar-benar fokus untuk belajar agar aku mendapat pendidikan yang lebih tinggi nantinya. Tiga tahun berlalu di SMA, aku lulus dan melanjutkan kuliah jurusan Kedokteran S1. Yaa... aku tahu ini berat untuk aku. Tetapi aku harus melewati ini dengan baik.

Selama kuliah, aku merasa sangat lelah untuk menyelesaikan segala macam tugas. Menganalisis hewan-hewan yang sudah mati untuk di teliti dan banyak yang harus dilakukan. Aku pernah untuk berhenti kuliah karena aku sudah lelah, serta bosan. Singkat cerita, aku berhasil melalui banyak rintangan hingga membuat aku senang dan bangga. Setelah 7 tahun aku berusaha untuk melewatinya aku sangat senang bisa melaluinya 

Sebelumnya aku sudah mendaftar universitas di London, Inggris. Targetku yang selanjutnya ingin S2 di London agar aku bisa kerja di bidang kedokteran di London. Tetapi aku mengkhawatirkan kedua orang tuaku serta adik-adikku, aku berjanji kepada kedua orang tuaku untuk membiayainya sendiri. Ini adalah tantangan bagiku, aku sudah mempersiapkan semuanya untuk uang makan, apartemen serta uang kerja untuk membayar uang kuliah. Suatu hari aku mendapatkan email dari Universitas di London bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah disana. Aku merasa senang saat melihat kabar itu.

Tanggal 14 Juni aku berangkat ke London, aku berani untuk mengambil resiko itu. Entah apa yang akan terjadi disana diriku sendiri yang akan bertanggung jawab. Aku tidak akan melibatkan orang tuaku untuk masalahku, namun aku sendiri yang akan menyelesaikannya. Aku pamit dengan kedua orang tua serta adik-adikku yang baru SMP kelas dua. Aku juga tidak lupa untuk terus menyemangati adik-adikku untuk terus belajar agar mencapai cita-cita mereka. 

Setibanya aku di London aku mulai merasa deg-degan, karena aku adalah orang asing yang pergi sendiri untuk kuliah. Ternyata ada satu orang yang ternyata juga satu universitas. Kemudian aku mulai dekat dengan dia. Apartemenku ternyata sudah dipesankan oleh universitas aku merasa sangat beruntung mendapatkan tempat yang baik. Ya.. bukan berarti semua akan baik-baik saja, tetapi aku akan berusaha untuk yang terbaik. 

Satu bulan di London aku belum mendapatkan pekerjaan, walaupun hanya kerja paruh waktu setidaknya ada sedikit penghasilan yang aku dapatkan di sini. Untuk uang makan dan uang keseharian di London. Aku juga menyisihkan uang untuk berjaga-jaga, takutnya ada masalah tiba-tiba dan aku tidak ada uang. 

Setelah enam bulan disini aku mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan kebiasaan disini dengan di tempat tinggalku yang sebenarnya, yaitu di Semarang. Aku menemukan banyak perbedaan yang ada, mulai dari kebiasaan makan, tidur, keseharian dan masih banyak lagi. Aku senang bisa menjalankan kehidupanku di sini walau tanpa keluarga. Aku punya keluarga lain yang ada disini , tinggal tanpa keluarga membuatku sadar bahwa hidup sendiri itu tidaklah mudah membutuhkan perjuangan untuk mencapai hasil. 

Di London aku menemukan banyak perbedaan pada diriku sendiri. Aku mulai mandiri dari yang sebelumnya masih tergantung pada orang tua. Kuliah disini memanglah menantang untuk diriku. Ya.. walaupun sedikit susah untuk aku karena harus melakukan semuanya sendirian tanpa bantuan orang lain. Tetapi aku mau memperbaiki cara hidupku yang dulu kurang mandiri alias setengah-setengah, dan sekarang aku berubah menjadi anak yang berani bertanggung jawab, serta mandiri. 

Hari ini adalah bulan Desember tanggal 24. Ini merupakan malam natal pertamaku di London tanpa keluargaku. Aku pergi keluar apartemen dan melihat suasana malam natal di sini. Ternyata!! Woww.. sangat indah dan penuh warna. Aku keluar bukan sekedar untuk melihat keadaan disini tapi aku keluar untuk pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Saat pulang aku bertemu dengan teman-teman kampusku. Aku sangat senang malam natal ini aku ditemani oleh teman-teman kampusku. 

Kemudian aku BBQ bersama dengan teman-teman kampusku di apartemen tempatku. Disitu ada taman yang besar dan ditengah terdapat pohon natal, seperti biasanya dibawah pohon natal itu terdapat banyak sekali kado. Mulai dari kado yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar. 

"Wah.. ada namaku. Dari siapa ini?"

"Dari orang tuaku dan adik-adikku. Wah kado ini sangat mengingatkan ku pada kampung halamanku, aku sangat rindu dengan kampung halamanku. Tunggu ini bukannya buku kenangan?'' Aku membukanya sambil terheran dan aku tiba-tiba menangis karena aku sangat rindu dengan kedua orang tuaku dan ketiga adikku disana.

Teman-temanku datang dan menanyakan apa yang terjadi padaku.

"Chloe kamu nggak papakan?" Temanku bertanya.

"Aku nggak papa, aku cuma rindu dengan kampung halamanku di Indonesia"

"Yaudah, nggak papa kan ada kita disini. Kita kan juga keluargamu, kita juga menemani kita disini." Jawab salah satu temanku dengan tersenyum.

Aku merasa sangat lega dengan adanya mereka. Yah... aku sebenernya juga punya rencana untuk pulang kampung tahun depan, hanya saja waktu yang aku punya sangat mepet dengan waktu di kampusku. Aku hanya bisa menunggu libur dan pulang kampung. Pada akhirnya aku pulang kampung, walaupun hanya 2 minggu aku rasa waktu itu cukup untuk waktuku bersama dengan keluargaku. Aku juga senang dapat bertemu dengan mereka, dan mereka juga senang dengan kedatanganku dari London. Oh ya, aku juga bawa oleh-oleh dari London untuk mereka, dan hadiah ini sangat special untuk mereka. "


My little diary

Selasa, 04 Mei 2021

Velyne`s Blog: Acil Anak Yang Pintar (Cerita ke-2)

Velyne`s Blog: Acil Anak Yang Pintar (Cerita ke-2):   P ada pagi hari, Acil masih tidur. Lalu Ibunya membangunkan Acil untuk bersiap makan, mandi, dan juga berangkat kesekolah. "Acil, ayo bagun. Ini sudah pukul 05.30." Ibunya membangunkan Acil. Acil pun segera bangun dan mencuci muka.  Adiknya Ali berkata: "Kak ayo sarapan bersama!". "Oke," sahut Acil.

Lalu setelah selesai makan bersama Acil mandi dan memakai seragam untuk berangkat kesekolah. Acil pun berpamitan kepada orang tuanya dan beserta adiknya Ali. "Ayah, Ibu, Ali aku berangkat ya!" sapa Acil untuk menunggalkan rumah. "Iya kak hati-hati di jalan!" Sahut Ali.

Setelah Acil berjalan, ia bertemu dengan teman-temannya yang lain. "Hallo Acil" sapa salah satu temannya yang bernama Doki. "Hallo juga Doki" sahut Acil. Mereka adalah teman sekelas Acil. Mereka pun berjalan bersama untuk sampai di sekolah. Sesampainya di sekolah.

Acil bertemu dengan teman-teman lainnya. Acil pun masuk kedalam kelas. "Selamat pagi Acil" sapa Bu Guru, "Selamat pagi juga Bu," Acil menyapa gurunya. Pada pukul 08.00 kelaspun dimulai. Tak lupa mereka berbaris terlebih dahulu, dan berdoa. 

Bu Guru pun memulai pelajaran. Ibu Guru berkata: "Selamat pagi semua,"  "Pagi Bu" sahut murid-muridnya. " Hari ini kita akan belajar Ilmu Pengetahuan Alam, apakah ada yang tahu Ilmu Pengetahuan Alam itu apa sih?" Kata Bu Guru sambil menanyakan pertanyaan. 

Acil pun ingin menjawab, dan berkata "Aku tahu Bu". "Ya Acil. Apakah itu Ilmu Pengetahuan Alam?" tanya Bu Guru sambil menanyakan. Acil pun berkata: " Ilmu Pengetahuan Alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu di mana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan di mana pun."

"Benar Acil" Kata Bu Guru. Kemudian Bu Guru pun memberikan 20 soal kepada murid-muridnya dan tugas itu untuk dikerjakan dirumah. Acil berkelompok dengan "Tara, Doki, Fifi, dan Sulu."  Bu Guru juga memberikan tugas untuk dikerjakan di sekolah. 

Salah satu teman Acil yang bernama Monmon adalah anak yang pandai dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Monmon pun mengerjakan lebih cepat dari Acil. Monmon mendapatkan nilai A, sedangkan Acil juga sama dengan nilai Monmon yaitu A.

Setelah pukul 12.00 mereka akhirnya pulang. Tara, Doki, Fifi, dan Sulu pulang untuk berganti pakaian dan menyiapkan tugas yang diberi oleh Bu Guru tadi. "Acil, kami pulang dahulu ya" kata Fifi. "Iya silahkan" Sahut Acil. Acil pun berjalan kerumah, dan akhirnya sampai.

Acil pun bergegas kemar dan menyiapkan buku, dan meja. "Ibu nanti Tara, Doki, Fifi, dan Sulu akan kerumah Bu, ada tugas kelompok yang di berikan Bu Guru." Kata Acil kepada Ibunya. "Baiklah kalau begitu. Ibu akan menyiapkan makanan dan minumman untuk kalian" Jawab Ibu.

Lalu teman kelompok Acil pun datang, mereka mengetok pintu dan masuk kedalam rumah Acil. Mereka pun makan terlebih dahulu dan mengerjakan tugas. "Teman teman ayo masuk kemarku" ajak Acil. "Oke, aku permisi ya" kata teman temannya. Mereka pun mengerjakan tugas kelompok bersama.


Mereka pun mengerjakan soal bersama. Dua jam telah berlalu, akhirnya selesai. "Teman-teman ini tugasnya sudah selesai," kata Acil.  Teman - teman Acil pun merasa sangat lega saat tugas sudah selesai.  Kemudian teman-teman Acil pulang kerumah masing-masing.

"Acil, kami pulang ya?" Kata Fifi, Acil pun menjawab: "Oke, silahkan".  Acil segera membereskan meja dan kursi yang dipakai untuk berlajar bersama teman-temannya. Hari menjelang malam, Acil pun segera mandi. Setelah selesai mandi, Acil dipanggil Ibunya untuk makan malam bersama.

"Acil, ayo turun kebawah untuk makan malam bersama!" Kata Ibunya. "Baik Bu," jawab Acil. Ali si adik Acil sudah ada dimeja makan. Ibunya menyiapkan makan, serta Ali yang membantu Ibu menyiapkan makanan. 



 Setelah selesai makan bersama, Ayah menannyakan tentang kegiatan di Sekolah tadi. "Acil, tadi di sekolah belajar apa?" tanya Ayah. "Tadi belajar IPA, dan sejarah Yah." jawab Acil. "Baiklah kalau begitu," jawab Ayah sambil tersenyum. Lalu Acil berkata,"Ayah, besok libur sekolah. Kita akan pergi kemana?" Tanya Acil. 

"Kak kita berlibur ke Gunung saja," Jawab Ali. 

"Kalau Ayah kemana?" Tanya Acil kepada Ayah nya.

"Ayah akan mengusulkan sama seperti Ali," Jawab Ayah.

"Oke," Jawab Acil kembali.

Keesokan harinya. Acil dan Ali sudah bangun duluan, padahal masih pukul 04.55 pagi. Kemudian Acil melihat jam dan turun kebawah untuk mencuci muka. Ali pun bangun pukul 05.23 pagi. Seluruh keluarganya sudah bangun. Mereka mulai menyiapkan barang yang akan dibawa untuk ke Gunung nanti. 

Ibu mulai memasak dengan Ali untuk menyiapkan bekal dan sarapan, Acil menyiapkan tas, sedangkan Ayah menyiapkan mobil. 

"Acil tolong bawakan tas-tasnya!" kata Ayah kepada Acil.

"Baik Ayah," Jawab Acil. 

Kemudian pada pukul 06.00 mereka sudah mulai berangkat menuju Gunung. Sesampainya di Gunung mereka bersiap dan mengeluarkan barang bawaan mereka.  "Ibu, aku lapar," kata Ali. "Baiklah kalau begitu kita akan mencari makan dulu sebelum mendaki," kata Ibu.

Mereka pun akhirnya menemukan restoran dan makan di situ. Setelah mereka selesai makan bersama, mereka melanjut kan perjalanan mendaki. 


Mereka mendaki gunung dengan sepeda. 
"Ayah, aku lelah," kata Ali 
"Baiklah kalau begitu, kita istirahat dulu!" Kata Ayah kepada semua kelarganya.


Saat istirahat Acil tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya, yaitu Doki, Tara, Monmon, Sulu, dan Lia.
"Hai teman-teman," sapa Acil.
"Hallo juga Acil," sapa teman-teman kepada Acil.


Setelah selesai  beristirahat merekapun mendaki gunung bersama dan sambil bernyanyi, agar tidak bosan. 
"Teman-teman kita bernyanyi yuk!" Ajak Lia kepada teman-teman yang lainnya.

"Ayo kita bernyanyi," sahut Acil.

Mereka pun bernyanyi, 

"Naik naik kepuncak gunung tinggi tinggi sekali

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara..

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara.."

Setelah sekian lama bernyanyi merekapun sampai ke puncak Gunung. Saat mereka bernyanyi mereka tidak terasa kalau sudah sampai. Mereka pun mengeluarkan alat kemping dan bermalam di gunung. Hari sudah mulai gelap, Ayah Acil dan Ayah Sulu segera menyalakan api unggun. 

Bintang-bintang di langit sudah mulai terlihat. Mereka semua segera melihat bintang yang ada dilangit itu.  Ayah Monmon juga tak lupa untuk memotret bintang itu. Hari sudah semakin gelap, mereka pun masuk kedalam tenda masing-masing dan tidur.

Kesokan harinya keluarga Acil sudah bangun dan juga keluarga Doki. Mereka menyiapkan makan untuk sarapan pagi. Matahari sudah terlihat. Mereka semua bangun dan sarapan pagi. 

"Teman-teman ayo makan bersama!" Ajak Acil.

"Oke," sahut teman yang lain.

Mereka pun makan bersama. Saat pukul 10.05 mereka segera membereskan tenda dan alat alat kemping lainnya. Semua keluarga pun turun dan berpamitan. Sesampainya di tempat parkir merekapun berpamitan dan pulang kerumah masing-masing.

Keluarga Acil sudah sampai di rumah. Sang adik yang lelah tertidur. Acil pun membangunkan Ali untuk membantu membereskan semua. Semua peralatan sudah beres dan merekapun beristirahat.


Sabtu, 24 April 2021

Acil Anak Yang Pintar (Cerita ke-2)

 Pada pagi hari, Acil masih tidur. Lalu Ibunya membangunkan Acil untuk bersiap makan, mandi, dan juga berangkat kesekolah. "Acil, ayo bagun. Ini sudah pukul 05.30." Ibunya membangunkan Acil. Acil pun segera bangun dan mencuci muka.  Adiknya Ali berkata: "Kak ayo sarapan bersama!". "Oke," sahut Acil.

Lalu setelah selesai makan bersama Acil mandi dan memakai seragam untuk berangkat kesekolah. Acil pun berpamitan kepada orang tuanya dan beserta adiknya Ali. "Ayah, Ibu, Ali aku berangkat ya!" sapa Acil untuk menunggalkan rumah. "Iya kak hati-hati di jalan!" Sahut Ali.

Setelah Acil berjalan, ia bertemu dengan teman-temannya yang lain. "Hallo Acil" sapa salah satu temannya yang bernama Doki. "Hallo juga Doki" sahut Acil. Mereka adalah teman sekelas Acil. Mereka pun berjalan bersama untuk sampai di sekolah. Sesampainya di sekolah.

Acil bertemu dengan teman-teman lainnya. Acil pun masuk kedalam kelas. "Selamat pagi Acil" sapa Bu Guru, "Selamat pagi juga Bu," Acil menyapa gurunya. Pada pukul 08.00 kelaspun dimulai. Tak lupa mereka berbaris terlebih dahulu, dan berdoa. 

Bu Guru pun memulai pelajaran. Ibu Guru berkata: "Selamat pagi semua,"  "Pagi Bu" sahut murid-muridnya. " Hari ini kita akan belajar Ilmu Pengetahuan Alam, apakah ada yang tahu Ilmu Pengetahuan Alam itu apa sih?" Kata Bu Guru sambil menanyakan pertanyaan. 

Acil pun ingin menjawab, dan berkata "Aku tahu Bu". "Ya Acil. Apakah itu Ilmu Pengetahuan Alam?" tanya Bu Guru sambil menanyakan. Acil pun berkata: " Ilmu Pengetahuan Alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu di mana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan di mana pun."

"Benar Acil" Kata Bu Guru. Kemudian Bu Guru pun memberikan 20 soal kepada murid-muridnya dan tugas itu untuk dikerjakan dirumah. Acil berkelompok dengan "Tara, Doki, Fifi, dan Sulu."  Bu Guru juga memberikan tugas untuk dikerjakan di sekolah. 

Salah satu teman Acil yang bernama Monmon adalah anak yang pandai dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Monmon pun mengerjakan lebih cepat dari Acil. Monmon mendapatkan nilai A, sedangkan Acil juga sama dengan nilai Monmon yaitu A.

Setelah pukul 12.00 mereka akhirnya pulang. Tara, Doki, Fifi, dan Sulu pulang untuk berganti pakaian dan menyiapkan tugas yang diberi oleh Bu Guru tadi. "Acil, kami pulang dahulu ya" kata Fifi. "Iya silahkan" Sahut Acil. Acil pun berjalan kerumah, dan akhirnya sampai.

Acil pun bergegas kemar dan menyiapkan buku, dan meja. "Ibu nanti Tara, Doki, Fifi, dan Sulu akan kerumah Bu, ada tugas kelompok yang di berikan Bu Guru." Kata Acil kepada Ibunya. "Baiklah kalau begitu. Ibu akan menyiapkan makanan dan minumman untuk kalian" Jawab Ibu.

Lalu teman kelompok Acil pun datang, mereka mengetok pintu dan masuk kedalam rumah Acil. Mereka pun makan terlebih dahulu dan mengerjakan tugas. "Teman teman ayo masuk kemarku" ajak Acil. "Oke, aku permisi ya" kata teman temannya. Mereka pun mengerjakan tugas kelompok bersama.


Mereka pun mengerjakan soal bersama. Dua jam telah berlalu, akhirnya selesai. "Teman-teman ini tugasnya sudah selesai," kata Acil.  Teman - teman Acil pun merasa sangat lega saat tugas sudah selesai.  Kemudian teman-teman Acil pulang kerumah masing-masing.

"Acil, kami pulang ya?" Kata Fifi, Acil pun menjawab: "Oke, silahkan".  Acil segera membereskan meja dan kursi yang dipakai untuk berlajar bersama teman-temannya. Hari menjelang malam, Acil pun segera mandi. Setelah selesai mandi, Acil dipanggil Ibunya untuk makan malam bersama.

"Acil, ayo turun kebawah untuk makan malam bersama!" Kata Ibunya. "Baik Bu," jawab Acil. Ali si adik Acil sudah ada dimeja makan. Ibunya menyiapkan makan, serta Ali yang membantu Ibu menyiapkan makanan. 



 Setelah selesai makan bersama, Ayah menannyakan tentang kegiatan di Sekolah tadi. "Acil, tadi di sekolah belajar apa?" tanya Ayah. "Tadi belajar IPA, dan sejarah Yah." jawab Acil. "Baiklah kalau begitu," jawab Ayah sambil tersenyum. Lalu Acil berkata,"Ayah, besok libur sekolah. Kita akan pergi kemana?" Tanya Acil. 

"Kak kita berlibur ke Gunung saja," Jawab Ali. 

"Kalau Ayah kemana?" Tanya Acil kepada Ayah nya.

"Ayah akan mengusulkan sama seperti Ali," Jawab Ayah.

"Oke," Jawab Acil kembali.

Keesokan harinya. Acil dan Ali sudah bangun duluan, padahal masih pukul 04.55 pagi. Kemudian Acil melihat jam dan turun kebawah untuk mencuci muka. Ali pun bangun pukul 05.23 pagi. Seluruh keluarganya sudah bangun. Mereka mulai menyiapkan barang yang akan dibawa untuk ke Gunung nanti. 

Ibu mulai memasak dengan Ali untuk menyiapkan bekal dan sarapan, Acil menyiapkan tas, sedangkan Ayah menyiapkan mobil. 

"Acil tolong bawakan tas-tasnya!" kata Ayah kepada Acil.

"Baik Ayah," Jawab Acil. 

Kemudian pada pukul 06.00 mereka sudah mulai berangkat menuju Gunung. Sesampainya di Gunung mereka bersiap dan mengeluarkan barang bawaan mereka.  "Ibu, aku lapar," kata Ali. "Baiklah kalau begitu kita akan mencari makan dulu sebelum mendaki," kata Ibu.

Mereka pun akhirnya menemukan restoran dan makan di situ. Setelah mereka selesai makan bersama, mereka melanjut kan perjalanan mendaki. 


Mereka mendaki gunung dengan sepeda. 
"Ayah, aku lelah," kata Ali 
"Baiklah kalau begitu, kita istirahat dulu!" Kata Ayah kepada semua kelarganya.


Saat istirahat Acil tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya, yaitu Doki, Tara, Monmon, Sulu, dan Lia.
"Hai teman-teman," sapa Acil.
"Hallo juga Acil," sapa teman-teman kepada Acil.


Setelah selesai  beristirahat merekapun mendaki gunung bersama dan sambil bernyanyi, agar tidak bosan. 
"Teman-teman kita bernyanyi yuk!" Ajak Lia kepada teman-teman yang lainnya.

"Ayo kita bernyanyi," sahut Acil.

Mereka pun bernyanyi, 

"Naik naik kepuncak gunung tinggi tinggi sekali

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara..

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara.."

Setelah sekian lama bernyanyi merekapun sampai ke puncak Gunung. Saat mereka bernyanyi mereka tidak terasa kalau sudah sampai. Mereka pun mengeluarkan alat kemping dan bermalam di gunung. Hari sudah mulai gelap, Ayah Acil dan Ayah Sulu segera menyalakan api unggun. 

Bintang-bintang di langit sudah mulai terlihat. Mereka semua segera melihat bintang yang ada dilangit itu.  Ayah Monmon juga tak lupa untuk memotret bintang itu. Hari sudah semakin gelap, mereka pun masuk kedalam tenda masing-masing dan tidur.

Kesokan harinya keluarga Acil sudah bangun dan juga keluarga Doki. Mereka menyiapkan makan untuk sarapan pagi. Matahari sudah terlihat. Mereka semua bangun dan sarapan pagi. 

"Teman-teman ayo makan bersama!" Ajak Acil.

"Oke," sahut teman yang lain.

Mereka pun makan bersama. Saat pukul 10.05 mereka segera membereskan tenda dan alat alat kemping lainnya. Semua keluarga pun turun dan berpamitan. Sesampainya di tempat parkir merekapun berpamitan dan pulang kerumah masing-masing.

Keluarga Acil sudah sampai di rumah. Sang adik yang lelah tertidur. Acil pun membangunkan Ali untuk membantu membereskan semua. Semua peralatan sudah beres dan merekapun beristirahat.




Rabu, 03 Maret 2021

INDONESIA-ENGLISH Lidah Sang Musang-The Weasel's Tongue

INDONESIA

                                 Lidah Sang Musang

Pada suatu hari, seekor Musang menemukan seekor tikus, dan buru-buru lari untuk mengejar tikus itu. Tikus itu melihat lubang di dinding batu dan masuk ke dalam lubang itu. Musang itu mengigit ke dalam batu itu sampai gigi di copot dan dia melompat kesakitan.

Musang itu bersembunyi di sekitar lubang untuk menunggu saatnya tikus akan keluar. Setelah langit sudah mulai gelap, Si Tikus mulai keluar dari lubang tersebut. Si Musang melihat kesempatan itu, dia langsung melompat dan menangkap Si Tikus. Si Musang pun berpikir: " Aku akan memakan Tikus ini sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan sebagai pembalasan dendam alan gigi ku yang copot."

Tetapi Si Musang tidak mempunyai gigi, bagaimana dia mau memakan Tikus itu? Memikirkan Tikus ini telah membuat dia rugi besar, Musang langsung berkata: "Lupakan saja, aku tidak mempunyai gigi, dan aku akan menggunakan lidah ku dan menjilatmu sampai mati."

Lalu sedikit demi sedikit Musang itu menjilat rambut Si Tikus terlebih dahulu, lalu nampaklah daging merahnya dan kultnya yang manis, setelah itu tulangnya pun dimakan hingga tak ada sisa.

Binatang-binatang di hutan sangat terintimidasi oleh kekejaman Si Musang. Setelah itu, tidak ada siapapun yang berani melawan Si Musang. Jika mereka melihat Si Musang mereka semua akan membungkuk kepada dia dengan rasa hormat. Si Musang pun di dalam hati sangat bangga akan dirinya sendri.

Suatu hari, Si Musang pergi ke bawah gunung dan pergi ke perdesaan. Dia pergi ke Penempa besi dan melihat Penempa besi itu tidak peduli atas kehadiranya Si Musang. Si Musang dengan marah dan berkata: " Hey! Kau melihat aku, mengapa kau tidak menyapaku? Apa kau sudah bosan hidup?" Penempa besi itu melihat Si Musang dan tidak menghiraukannya.

Si Musang berkata kembali: "Kekuatan menjilat lidahku nomor satu di dunia, jika kamu membuatku marah maka aku akan menjilatmu sampat mati." Penempa besi itu tertawa, dan menunjuk ke pojok dan sambil berbicara: " Di situ aku punya kikir baru yang besar, jika kau bisa menjilat iru aku akan menghormatimu sebagai Raja.

Kemudian Si Musang kembali berkata: "Bisa apa satu kikir kecil?"  Si Musang pun mengambil kikirnya dan menjilatnya beberapa kali lalu melihat lidahnya terluka dan mencucurkan banyak sekali darah. Si Musang itu merasa kesakitan dan tidak sanggup lagi menjilat kikir itu lagi. 

Kemudian Si Musang itu pun menyerah.



English

                              The Weasel's Tongue

One day, a Weasel found a mouse, and rushed to run to chase the mouse. The mouse saw a hole in the stone wall and entered the hole. The weasel bit into the rock until his teeth fell out and he jumped in pain.

The weasel hid around the hole to wait for the mice to come out. After the sky was getting dark, the mouse started to come out of the hole. The Weasel saw the opportunity, he immediately jumped and caught the Rat. The Weasel also thought: "I will eat this rat little by little and slowly as revenge for my lost teeth."

But The Weasel has no teeth, how will he eat the Rat? Thinking that this Rat has made him a big loss, Weasel immediately said: "Forget it, I have no teeth, and I will use my tongue and lick you to death."

Then little by little the Weasel licked the mouse's hair first, then the red meat and sweet cult appeared, after which the bones were eaten until there was no trace.

The beasts of the forest were deeply intimidated by the ferocious Weasel. After that, no one dared to fight The Weasel. If they saw the Weasel they would all bow to him with respect. The Weasel was very proud of himself in his heart.

One day, the Weasel went under the mountain and went to the countryside. He went to the Ironsmith and saw that the smith did not care about the Weasel's presence. The Weasel angrily said: "Hey! You saw me, why didn't you greet me? Are you tired of living?" The iron smith saw the Weasel and paid him no heed.

The Weasel said again: "The power of licking my tongue is number one in the world, if you make me angry then I will lick you to death." The iron smith laughed, and pointed to a corner and while speaking: "There I have a big new miser, if you can lick it I will respect you as King.

Then the Weasel again said: "What can one little miser?" The Weasel also took his file and licked it several times then saw his tongue was injured and shed a lot of blood. The Weasel was in pain and could no longer lick the miser anymore.

Then the Weasel gave up.




INDONESIA-ENGLISH Serigala Ekor Besar yang Sombong - The Arrogant Big Tailed Wolf

Indonesia 
                          Serigala Ekor Besar yang Sombong 

Disebuah hutan cantik yang dihuni oleh penduduk manis. Kambing Kecil menarik rumput, Rusa Kecil mengumpulkan daun pohon, dan Burung Kecil mencari cacing. Hidup mereka memang berbeda, tetapi mereka sangat akrab satu sama lain.

Tetapi suatu hari, dari hutan datanglah seekor Serigala Ekor Besar yang sombong. Melihat Kambing Kecil sedang menarik rumput, dia berteriak kepada Kambing Kecil: "Kamu tidak boleh memakan rumput itu. Rumput itu milikku!" Sang Serigala juga tidak memberikan izin kepada Rusa Kecil untuk memetik daun-daun pohon, dan Burung Kecil pun tidak boleh mencari cacing.

Itu adalah Serigala Ekor Besar, dia sangat sombong! Kambing Kecil, Rusa Kecil, dan Burung Kecil pun meninggalkan hutan. Hutan sekarang terasa sangat sepi. Serigala Ekor Besar yang sangat sombong pun juga merasa kesepian.

Suatu hari, Burung Kecil sedang mencari cacing untuk dimakan di serikitar rerumputan. Serigala Ekor Besar pun melihat Burung Kecl langsung melompat dan mengejar untuk menangkap Burung Kecil. Saat Sang Serigala memegang Burung Kecil dia mendengar suara "Sekarang
! waktunya angkat seluruh badan dia dari tanah".

Ternyata, Burung Kecil meminta bantuan Tuan Gajah Besar yang seorang pemberani untuk memberikan pelajaran. Tuan Gajah Besar mengangkat dengan belalainya yang kuat, mengayun Serigala Ekor Besar ke kiri dan Ke kanan. Burung Kecil dengan senangnya berseru: "Bagus! Bagus!".

Serigala Ekor Besar merasakan kepahitan lalu berjanji untuk tidak sombong lagi. Tuan Gajah Besar serta Kambing Kecil, Rusa Kecil, dan Burung Kecil kembali ke kehidupan mereka seperti sebelumnya dan hidup bersama dengan bahagia.

Moral dari cerita tersebut adalah, "Janganlah kita berbuat sombong atau berpikir itu semua adalah milikku. Kita boleh berbuat baik kepada orang lain, tetapi jangan sombongkan diri kita sendiri kepada orang lain, sama saja kita mempermalukan diri sendiri."

English
                             The Arrogant Big Tailed Wolf

In a beautiful forest inhabited by sweet people. The Little Goat pulls the grass, the Little Deer collects tree leaves, and the Little Bird looks for worms. Their lives were different, but they were very close to each other.

But one day, from the forest came an arrogant Big Tailed Wolf. Seeing the Little Goat pulling the grass, he shouted to the Little Goat: "You must not eat the grass. The grass is mine!" The Wolf also did not give the Little Deer permission to pluck the tree leaves, and the Little Bird was not allowed to look for worms.

It was a large tailed wolf, he was so arrogant! Little Goats, Little Deer, and Little Birds left the forest. The forest now feels very lonely. The very proud Big Tailed Wolf also felt lonely.

One day, Little Bird was looking for worms to eat around the grass. The Big Tailed Wolf saw the Little Bird immediately jumped and chased to catch the Little Bird. As the wolf held the Little Bird he heard a sound "Now! time to lift her whole body off the ground ".

As it turned out, Little Bird asked Tuan Besar Gajah, a brave man, to teach a lesson. Lord Great Elephant raised with his strong trunk, swinging the Big Tailed Wolf left and right. Little Bird happily exclaimed: "Good! Good!".

The Big Tailed Wolf felt bitterness and promised not to be arrogant anymore. Master Big Elephant and Little Goat, Little Deer, and Little Bird returned to their previous life and lived happily together.

The moral of the story is, "Let's not be arrogant or think it's all mine. We can do good to others, but don't boast about ourselves to others, it's just as if we embarrass ourselves."

Melodi dalam Keheningan

Lima tahun berlalu begitu saja, entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, semua hanya seperti angin lewat begitu saja tidak ada hari yang cuk...