Sabtu, 24 April 2021

Acil Anak Yang Pintar (Cerita ke-2)

 Pada pagi hari, Acil masih tidur. Lalu Ibunya membangunkan Acil untuk bersiap makan, mandi, dan juga berangkat kesekolah. "Acil, ayo bagun. Ini sudah pukul 05.30." Ibunya membangunkan Acil. Acil pun segera bangun dan mencuci muka.  Adiknya Ali berkata: "Kak ayo sarapan bersama!". "Oke," sahut Acil.

Lalu setelah selesai makan bersama Acil mandi dan memakai seragam untuk berangkat kesekolah. Acil pun berpamitan kepada orang tuanya dan beserta adiknya Ali. "Ayah, Ibu, Ali aku berangkat ya!" sapa Acil untuk menunggalkan rumah. "Iya kak hati-hati di jalan!" Sahut Ali.

Setelah Acil berjalan, ia bertemu dengan teman-temannya yang lain. "Hallo Acil" sapa salah satu temannya yang bernama Doki. "Hallo juga Doki" sahut Acil. Mereka adalah teman sekelas Acil. Mereka pun berjalan bersama untuk sampai di sekolah. Sesampainya di sekolah.

Acil bertemu dengan teman-teman lainnya. Acil pun masuk kedalam kelas. "Selamat pagi Acil" sapa Bu Guru, "Selamat pagi juga Bu," Acil menyapa gurunya. Pada pukul 08.00 kelaspun dimulai. Tak lupa mereka berbaris terlebih dahulu, dan berdoa. 

Bu Guru pun memulai pelajaran. Ibu Guru berkata: "Selamat pagi semua,"  "Pagi Bu" sahut murid-muridnya. " Hari ini kita akan belajar Ilmu Pengetahuan Alam, apakah ada yang tahu Ilmu Pengetahuan Alam itu apa sih?" Kata Bu Guru sambil menanyakan pertanyaan. 

Acil pun ingin menjawab, dan berkata "Aku tahu Bu". "Ya Acil. Apakah itu Ilmu Pengetahuan Alam?" tanya Bu Guru sambil menanyakan. Acil pun berkata: " Ilmu Pengetahuan Alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu di mana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan di mana pun."

"Benar Acil" Kata Bu Guru. Kemudian Bu Guru pun memberikan 20 soal kepada murid-muridnya dan tugas itu untuk dikerjakan dirumah. Acil berkelompok dengan "Tara, Doki, Fifi, dan Sulu."  Bu Guru juga memberikan tugas untuk dikerjakan di sekolah. 

Salah satu teman Acil yang bernama Monmon adalah anak yang pandai dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Monmon pun mengerjakan lebih cepat dari Acil. Monmon mendapatkan nilai A, sedangkan Acil juga sama dengan nilai Monmon yaitu A.

Setelah pukul 12.00 mereka akhirnya pulang. Tara, Doki, Fifi, dan Sulu pulang untuk berganti pakaian dan menyiapkan tugas yang diberi oleh Bu Guru tadi. "Acil, kami pulang dahulu ya" kata Fifi. "Iya silahkan" Sahut Acil. Acil pun berjalan kerumah, dan akhirnya sampai.

Acil pun bergegas kemar dan menyiapkan buku, dan meja. "Ibu nanti Tara, Doki, Fifi, dan Sulu akan kerumah Bu, ada tugas kelompok yang di berikan Bu Guru." Kata Acil kepada Ibunya. "Baiklah kalau begitu. Ibu akan menyiapkan makanan dan minumman untuk kalian" Jawab Ibu.

Lalu teman kelompok Acil pun datang, mereka mengetok pintu dan masuk kedalam rumah Acil. Mereka pun makan terlebih dahulu dan mengerjakan tugas. "Teman teman ayo masuk kemarku" ajak Acil. "Oke, aku permisi ya" kata teman temannya. Mereka pun mengerjakan tugas kelompok bersama.


Mereka pun mengerjakan soal bersama. Dua jam telah berlalu, akhirnya selesai. "Teman-teman ini tugasnya sudah selesai," kata Acil.  Teman - teman Acil pun merasa sangat lega saat tugas sudah selesai.  Kemudian teman-teman Acil pulang kerumah masing-masing.

"Acil, kami pulang ya?" Kata Fifi, Acil pun menjawab: "Oke, silahkan".  Acil segera membereskan meja dan kursi yang dipakai untuk berlajar bersama teman-temannya. Hari menjelang malam, Acil pun segera mandi. Setelah selesai mandi, Acil dipanggil Ibunya untuk makan malam bersama.

"Acil, ayo turun kebawah untuk makan malam bersama!" Kata Ibunya. "Baik Bu," jawab Acil. Ali si adik Acil sudah ada dimeja makan. Ibunya menyiapkan makan, serta Ali yang membantu Ibu menyiapkan makanan. 



 Setelah selesai makan bersama, Ayah menannyakan tentang kegiatan di Sekolah tadi. "Acil, tadi di sekolah belajar apa?" tanya Ayah. "Tadi belajar IPA, dan sejarah Yah." jawab Acil. "Baiklah kalau begitu," jawab Ayah sambil tersenyum. Lalu Acil berkata,"Ayah, besok libur sekolah. Kita akan pergi kemana?" Tanya Acil. 

"Kak kita berlibur ke Gunung saja," Jawab Ali. 

"Kalau Ayah kemana?" Tanya Acil kepada Ayah nya.

"Ayah akan mengusulkan sama seperti Ali," Jawab Ayah.

"Oke," Jawab Acil kembali.

Keesokan harinya. Acil dan Ali sudah bangun duluan, padahal masih pukul 04.55 pagi. Kemudian Acil melihat jam dan turun kebawah untuk mencuci muka. Ali pun bangun pukul 05.23 pagi. Seluruh keluarganya sudah bangun. Mereka mulai menyiapkan barang yang akan dibawa untuk ke Gunung nanti. 

Ibu mulai memasak dengan Ali untuk menyiapkan bekal dan sarapan, Acil menyiapkan tas, sedangkan Ayah menyiapkan mobil. 

"Acil tolong bawakan tas-tasnya!" kata Ayah kepada Acil.

"Baik Ayah," Jawab Acil. 

Kemudian pada pukul 06.00 mereka sudah mulai berangkat menuju Gunung. Sesampainya di Gunung mereka bersiap dan mengeluarkan barang bawaan mereka.  "Ibu, aku lapar," kata Ali. "Baiklah kalau begitu kita akan mencari makan dulu sebelum mendaki," kata Ibu.

Mereka pun akhirnya menemukan restoran dan makan di situ. Setelah mereka selesai makan bersama, mereka melanjut kan perjalanan mendaki. 


Mereka mendaki gunung dengan sepeda. 
"Ayah, aku lelah," kata Ali 
"Baiklah kalau begitu, kita istirahat dulu!" Kata Ayah kepada semua kelarganya.


Saat istirahat Acil tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya, yaitu Doki, Tara, Monmon, Sulu, dan Lia.
"Hai teman-teman," sapa Acil.
"Hallo juga Acil," sapa teman-teman kepada Acil.


Setelah selesai  beristirahat merekapun mendaki gunung bersama dan sambil bernyanyi, agar tidak bosan. 
"Teman-teman kita bernyanyi yuk!" Ajak Lia kepada teman-teman yang lainnya.

"Ayo kita bernyanyi," sahut Acil.

Mereka pun bernyanyi, 

"Naik naik kepuncak gunung tinggi tinggi sekali

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara..

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara.."

Setelah sekian lama bernyanyi merekapun sampai ke puncak Gunung. Saat mereka bernyanyi mereka tidak terasa kalau sudah sampai. Mereka pun mengeluarkan alat kemping dan bermalam di gunung. Hari sudah mulai gelap, Ayah Acil dan Ayah Sulu segera menyalakan api unggun. 

Bintang-bintang di langit sudah mulai terlihat. Mereka semua segera melihat bintang yang ada dilangit itu.  Ayah Monmon juga tak lupa untuk memotret bintang itu. Hari sudah semakin gelap, mereka pun masuk kedalam tenda masing-masing dan tidur.

Kesokan harinya keluarga Acil sudah bangun dan juga keluarga Doki. Mereka menyiapkan makan untuk sarapan pagi. Matahari sudah terlihat. Mereka semua bangun dan sarapan pagi. 

"Teman-teman ayo makan bersama!" Ajak Acil.

"Oke," sahut teman yang lain.

Mereka pun makan bersama. Saat pukul 10.05 mereka segera membereskan tenda dan alat alat kemping lainnya. Semua keluarga pun turun dan berpamitan. Sesampainya di tempat parkir merekapun berpamitan dan pulang kerumah masing-masing.

Keluarga Acil sudah sampai di rumah. Sang adik yang lelah tertidur. Acil pun membangunkan Ali untuk membantu membereskan semua. Semua peralatan sudah beres dan merekapun beristirahat.




Rabu, 03 Maret 2021

INDONESIA-ENGLISH Lidah Sang Musang-The Weasel's Tongue

INDONESIA

                                 Lidah Sang Musang

Pada suatu hari, seekor Musang menemukan seekor tikus, dan buru-buru lari untuk mengejar tikus itu. Tikus itu melihat lubang di dinding batu dan masuk ke dalam lubang itu. Musang itu mengigit ke dalam batu itu sampai gigi di copot dan dia melompat kesakitan.

Musang itu bersembunyi di sekitar lubang untuk menunggu saatnya tikus akan keluar. Setelah langit sudah mulai gelap, Si Tikus mulai keluar dari lubang tersebut. Si Musang melihat kesempatan itu, dia langsung melompat dan menangkap Si Tikus. Si Musang pun berpikir: " Aku akan memakan Tikus ini sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan sebagai pembalasan dendam alan gigi ku yang copot."

Tetapi Si Musang tidak mempunyai gigi, bagaimana dia mau memakan Tikus itu? Memikirkan Tikus ini telah membuat dia rugi besar, Musang langsung berkata: "Lupakan saja, aku tidak mempunyai gigi, dan aku akan menggunakan lidah ku dan menjilatmu sampai mati."

Lalu sedikit demi sedikit Musang itu menjilat rambut Si Tikus terlebih dahulu, lalu nampaklah daging merahnya dan kultnya yang manis, setelah itu tulangnya pun dimakan hingga tak ada sisa.

Binatang-binatang di hutan sangat terintimidasi oleh kekejaman Si Musang. Setelah itu, tidak ada siapapun yang berani melawan Si Musang. Jika mereka melihat Si Musang mereka semua akan membungkuk kepada dia dengan rasa hormat. Si Musang pun di dalam hati sangat bangga akan dirinya sendri.

Suatu hari, Si Musang pergi ke bawah gunung dan pergi ke perdesaan. Dia pergi ke Penempa besi dan melihat Penempa besi itu tidak peduli atas kehadiranya Si Musang. Si Musang dengan marah dan berkata: " Hey! Kau melihat aku, mengapa kau tidak menyapaku? Apa kau sudah bosan hidup?" Penempa besi itu melihat Si Musang dan tidak menghiraukannya.

Si Musang berkata kembali: "Kekuatan menjilat lidahku nomor satu di dunia, jika kamu membuatku marah maka aku akan menjilatmu sampat mati." Penempa besi itu tertawa, dan menunjuk ke pojok dan sambil berbicara: " Di situ aku punya kikir baru yang besar, jika kau bisa menjilat iru aku akan menghormatimu sebagai Raja.

Kemudian Si Musang kembali berkata: "Bisa apa satu kikir kecil?"  Si Musang pun mengambil kikirnya dan menjilatnya beberapa kali lalu melihat lidahnya terluka dan mencucurkan banyak sekali darah. Si Musang itu merasa kesakitan dan tidak sanggup lagi menjilat kikir itu lagi. 

Kemudian Si Musang itu pun menyerah.



English

                              The Weasel's Tongue

One day, a Weasel found a mouse, and rushed to run to chase the mouse. The mouse saw a hole in the stone wall and entered the hole. The weasel bit into the rock until his teeth fell out and he jumped in pain.

The weasel hid around the hole to wait for the mice to come out. After the sky was getting dark, the mouse started to come out of the hole. The Weasel saw the opportunity, he immediately jumped and caught the Rat. The Weasel also thought: "I will eat this rat little by little and slowly as revenge for my lost teeth."

But The Weasel has no teeth, how will he eat the Rat? Thinking that this Rat has made him a big loss, Weasel immediately said: "Forget it, I have no teeth, and I will use my tongue and lick you to death."

Then little by little the Weasel licked the mouse's hair first, then the red meat and sweet cult appeared, after which the bones were eaten until there was no trace.

The beasts of the forest were deeply intimidated by the ferocious Weasel. After that, no one dared to fight The Weasel. If they saw the Weasel they would all bow to him with respect. The Weasel was very proud of himself in his heart.

One day, the Weasel went under the mountain and went to the countryside. He went to the Ironsmith and saw that the smith did not care about the Weasel's presence. The Weasel angrily said: "Hey! You saw me, why didn't you greet me? Are you tired of living?" The iron smith saw the Weasel and paid him no heed.

The Weasel said again: "The power of licking my tongue is number one in the world, if you make me angry then I will lick you to death." The iron smith laughed, and pointed to a corner and while speaking: "There I have a big new miser, if you can lick it I will respect you as King.

Then the Weasel again said: "What can one little miser?" The Weasel also took his file and licked it several times then saw his tongue was injured and shed a lot of blood. The Weasel was in pain and could no longer lick the miser anymore.

Then the Weasel gave up.




INDONESIA-ENGLISH Serigala Ekor Besar yang Sombong - The Arrogant Big Tailed Wolf

Indonesia 
                          Serigala Ekor Besar yang Sombong 

Disebuah hutan cantik yang dihuni oleh penduduk manis. Kambing Kecil menarik rumput, Rusa Kecil mengumpulkan daun pohon, dan Burung Kecil mencari cacing. Hidup mereka memang berbeda, tetapi mereka sangat akrab satu sama lain.

Tetapi suatu hari, dari hutan datanglah seekor Serigala Ekor Besar yang sombong. Melihat Kambing Kecil sedang menarik rumput, dia berteriak kepada Kambing Kecil: "Kamu tidak boleh memakan rumput itu. Rumput itu milikku!" Sang Serigala juga tidak memberikan izin kepada Rusa Kecil untuk memetik daun-daun pohon, dan Burung Kecil pun tidak boleh mencari cacing.

Itu adalah Serigala Ekor Besar, dia sangat sombong! Kambing Kecil, Rusa Kecil, dan Burung Kecil pun meninggalkan hutan. Hutan sekarang terasa sangat sepi. Serigala Ekor Besar yang sangat sombong pun juga merasa kesepian.

Suatu hari, Burung Kecil sedang mencari cacing untuk dimakan di serikitar rerumputan. Serigala Ekor Besar pun melihat Burung Kecl langsung melompat dan mengejar untuk menangkap Burung Kecil. Saat Sang Serigala memegang Burung Kecil dia mendengar suara "Sekarang
! waktunya angkat seluruh badan dia dari tanah".

Ternyata, Burung Kecil meminta bantuan Tuan Gajah Besar yang seorang pemberani untuk memberikan pelajaran. Tuan Gajah Besar mengangkat dengan belalainya yang kuat, mengayun Serigala Ekor Besar ke kiri dan Ke kanan. Burung Kecil dengan senangnya berseru: "Bagus! Bagus!".

Serigala Ekor Besar merasakan kepahitan lalu berjanji untuk tidak sombong lagi. Tuan Gajah Besar serta Kambing Kecil, Rusa Kecil, dan Burung Kecil kembali ke kehidupan mereka seperti sebelumnya dan hidup bersama dengan bahagia.

Moral dari cerita tersebut adalah, "Janganlah kita berbuat sombong atau berpikir itu semua adalah milikku. Kita boleh berbuat baik kepada orang lain, tetapi jangan sombongkan diri kita sendiri kepada orang lain, sama saja kita mempermalukan diri sendiri."

English
                             The Arrogant Big Tailed Wolf

In a beautiful forest inhabited by sweet people. The Little Goat pulls the grass, the Little Deer collects tree leaves, and the Little Bird looks for worms. Their lives were different, but they were very close to each other.

But one day, from the forest came an arrogant Big Tailed Wolf. Seeing the Little Goat pulling the grass, he shouted to the Little Goat: "You must not eat the grass. The grass is mine!" The Wolf also did not give the Little Deer permission to pluck the tree leaves, and the Little Bird was not allowed to look for worms.

It was a large tailed wolf, he was so arrogant! Little Goats, Little Deer, and Little Birds left the forest. The forest now feels very lonely. The very proud Big Tailed Wolf also felt lonely.

One day, Little Bird was looking for worms to eat around the grass. The Big Tailed Wolf saw the Little Bird immediately jumped and chased to catch the Little Bird. As the wolf held the Little Bird he heard a sound "Now! time to lift her whole body off the ground ".

As it turned out, Little Bird asked Tuan Besar Gajah, a brave man, to teach a lesson. Lord Great Elephant raised with his strong trunk, swinging the Big Tailed Wolf left and right. Little Bird happily exclaimed: "Good! Good!".

The Big Tailed Wolf felt bitterness and promised not to be arrogant anymore. Master Big Elephant and Little Goat, Little Deer, and Little Bird returned to their previous life and lived happily together.

The moral of the story is, "Let's not be arrogant or think it's all mine. We can do good to others, but don't boast about ourselves to others, it's just as if we embarrass ourselves."

Kamis, 22 Oktober 2020

Ayam dan Ikan Tongkol ( INDONESIA KEPULAUAN RIAU )




 Dahulu kala di Kepulauan Riau, kaum ikan tongkol dan ayam bersahabat erat.

Mereka saling membantu satu sama lain. Sampai suatu hari, Raja Ayam memberitahukan kepada Raja Tongkol bahwa satu keluarga nelayan akan menikahkan anaknya dan mengadakan pesta besar - besaran. Semua warga diundang. Pesta itu juga akan menampilkan kesenian zikir bardah, yaitu untaian doa dan pujian dalam rangkaian lagu. 

Rakyat Tongkol sangat menyukai kesenian itu. Tambahan lagi, mereka juga ingin sekali merasakan suasana yang berbeda dari laut yang biasa mereka tinggali. 

"Jangan lupa sahabatku Raja Tongkol, kau datanglah bersama rakyatmu ke pesta itu besok malam. Kalian pasti akan sangat meniknatinya," ujar Raja Ayam kepada Raja Tongkol ketika mereka bertemu di pinggir pantai.

"Baiklah, aku dan rakyatku akan senang hati melihat pesta itu. Tetapi, aku butuh bantuanmu, Raja Ayam," jawab Raja Tongkol.

"Bantuan apa itu? Dengan senang hati aku akan membantumu."

"Kami akan datang nanti malam saat air laut pasang. Kami harus kembali sebelum fajar menyising, sebelum air laut surut. Jadi, kalian jangan lupa berkokok untuk memberi tanda waktu bagi kami," Raja Tongkol menjelaskan permintaannya.

"Tentu saja kami akan melakukannya. Sudah menjadi tugas ehari - hari kami untuk membangunkan seluruh warga pulau untuk menyambut hari baru," Raja Ayam menyanggupi permintaan Raja Tongkol.

Keesokan harinya, pestapun mulai digelar. Sejak pagi hari, kesibukan sudah terlihat di daratan, tak jauh dari bibir pantai. Ibu - ibu memasak hidangan dan bapak - bapak menyiapkan panggung hiburan. Semua orang berwajah ceria, tak sabar menunggu puncak acara nanti malam. 

Malam yang ditunggu - tunggu pun tiba. Bulan purnama bersinar sangat terang. Air laut pun naik. Saat itu lah rombongan rakyat Tongkol daang dari tanggah laut, memasuki wilayah pantai. Mereka menempatkan diri senyaman mungkin untuk menikmati pesta itu. Mereka bersembunyi di karang - karang, tak jauh dari panggung utama.

Tak lama kemudian, lantunan zikir bardah yang sangat merdu mulai terdengar. Semua orang terlarut dalam doa dan puji - puji yang indah, dengan diiringi suara rebana yang berlalu - lalu. Rakyat tongkol pun sangat menikmati rangkaian suara indah itu. Malam semakin larut, lantunan zikir bardah semakin menghanyutkan siapa saja yang mendengarnya, hingga terbuai dalam mimpi. 

Masalahnya, warga pantai dan para tongkol yang tertidur. Raja Ayam dan rakyatnya pun sangat nyenyak. 

Celaka! Air laut sudah mulai surut, tapi tak ada satu pun ayam yang berkokok! Saat matahari terbit, satu per satu ikan mulai bangun. Betapa kagetnya mereka melihat pantai mengering.

"Oh, tidak... Air laut sudah surut! Kemana ayam jantan yang bertugas berkokok membantu rakyat tongkol?" para tongkol pun mulai panik. 

Mereka terjebak di karang - karang yang sudah kering. Sebagian tongkol berlompat - lompat, berusaha kembali ke pantai yang berair. Namun, hanya sedikit yang berhasil, salah satunya Raja Tongkol. 

Ketika hangatnya sinar matahari mulai menusuk kulit, Raja Ayam baru tebangun, diikuti oleh ayam - ayam yang lain. "Ya ampun...! Ternyata hari sudah siang. Bagainama dengan nasib rakyat tongkol?" pikir Raja Ayam kebingungan dan panik.

Tak lama kemudian, warga yang tinggal di pinggiran pantai pun mulai terbangun. Mereka sangat terkejut, melihat banyak sekali ikan tongkol menggelempar - gelempar di karang - karang sepanjang pantai. Lalu Mereka beramai - ramai menangkap ikan - ikan itu dan menampung nya di embar untuk dibawa pulang.

Melihat rakyatnya ditangkapi sedemikian rupa, Raja Tongkol sangat marah. Ia pun mengucapakn sumpah untuk Raja Ayam dan rakyatnya. "Persahabatan kita sudah selesai, Raja Ayam! Kau dan rakyatmu bukan sahabatku lagi. Mulai sekarang, kami rakyat tongkol akan memakan semua rakyat ayam, terutama kalian ayam jantan! 

Jika kami tidak mendapatkan daging kalian, bulu-bulu  kalian pun akan kami santap," Raja Tongkol berseru. Sejak saat itu, ikan tongkol dan ayam menjadi musuh abadi. Mulai saat itu pula, para nelayan disekitar wilayah Riau menggunakan umpan bulu ayam untuk memancing ikan tongkol.


FAKTA TENTANG PERMUSUHAN IKAN TONGKOL DAN AYAM:

1. Para nelayan di Kepulauan Riau dan Kepulauan Natuna memang mempunyai kebiasaan unik ketika memancing ikan tongkol. Mereka menggunakan bulu tengkuk ayam jantan sebagai umpan memancing ikan tongkol.

2. Tongkol adalah salah satu spesies tuna yang hidup di perairan tropis Indo-Pasifik Barat. Panjang tubuhnya bisa mencapai 145 cm dengan berat 35 kg.



Senin, 07 September 2020

Heroes In My City

 Once upon a time, when my city experienced a disaster or problem, my city had one hero. He is Rocky.  

One day, when my family and I wanted to travel, the railroad bridge suddenly broke. The engineer also calls Rocky.

The Hero has come to help us. He reinstalled the railroad bridge. After finished i feel happy. Then, in spring in my city, there is a balloon festival. 

When the festival started I started decorating my bike with balloons. I also accidentally multiply the balloons. 

And I nudged my bicycle to fly into the sky.

My mother also called Rocky to help get my bicycle that flew to the sky.

Rocky managed to grab my bike. I feel happy too.

He is, the only hero in my city.



Kamis, 20 Agustus 2020

Bona and Boni

 That morning was walking around the, forest dwellers of the forest where he lives, because the forest they live temat been razed to the ground.

They all plan to move across the forestry to start a group leader warned "we have arrived at the oppositr woods before dusk! Remember do not be apart.

But unfortunately, in the group there was a female elephan who pregnant. The elephant Bona child concerned mother "is mom okay?"   "Do not worry baby, the mother will be find." feplied her mother assured Bona.

"Mom, if sister was born later, may i give him Boni name?" Bona asked. "Yes, dear." Replied the mother.

But moments later, there was something of a surprise party. Bona mother gave birth to her baby. "Hooray.. Now i'm being a big brother."

Trips was forced to stalled and entourage else began to anxious because briefly again twilight will be come. Because it was getting dusk chairman of the group was about providing Cula proposal. "Mom elephants, sorry we had to leave."

"Boni, let stand, you certainly can." Bona said encourrasgingily to her sister. "Your sister is still weak Bona."

Boni is still weak keep practicing walking. "Look sis i was able to walk." Boni Terika excited.

Hap..hap..hap.. Boni sounded eager to fullow the step mother and step brother, though occasionally he fell.

Amid the long journey Miss elephant trumpeted. Tell good news for the group in front. All delighted with the birth of Boni.


Rabu, 19 Agustus 2020

The Cowardly Rabbit

 Rabbit had been known as cowardly animal since the first. They often felt afraid for no apparet reason. They would step away as soon as possible if they felt unsafe.

One day, there was a group of rabbits gathering on the banks of a river, they were busy sighing and lamenting over their cowardliness. 

Complaning abaout their lives which constantly overshadowed by danger. The more they talked the sadder and more afraid they thought about their fate.

 

How unlucky it was to be born into a rabbit. Wanting to be more powerful but did not have energy, wanting to fly into the blue sky, but did not have wings, every day merely frightened.

Wanting to sleep soundly but it was sifficult since it was troubled by sharp hearing of their long ears so that the red eyes even more and more red only.

They felt life had no meading. They would rather to die than to live in suffer from fear.

Finally they took the decision about to commit suicide by jumping from a high steep cliff edges. So the rabbits were seen floking towards the cliff.

As they passed the river, there was a frog who was suprised to see the arrival of a large number of rabbits.

The frog was frightened and immediately jumped to escape.

Although the rabbits often found a frog jumping with fear when he saw a rabbit passed, they did not care.

But this time was different. Sunddely there was a rabbit that came out of grief and immediately shouted,"Hey, stop! We do not need to be scared so that we need to commit suicide."

"Bacuse, look! it turns out there are other more cowardly animals than we are, namely the frog who scampered to see us!"

Hearing those words, another rabbits sunddenly open their minds and harts, as if bud of courage grew in their hearts.

So they happily began to encourage themselves earch other, "Yes we don't need to be afraid!"

"See, there are other creatures whitch are more cowardly than us", "Yes, we should be more courageous".

Slowly they turned home happily and forgot about wanting to commit suicide.


Melodi dalam Keheningan

Lima tahun berlalu begitu saja, entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, semua hanya seperti angin lewat begitu saja tidak ada hari yang cuk...